Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Fadli Zon Dorong Penulisan Sejarah Indonesia dari Perspektif Bangsa Sendiri

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Fadli Zon Dorong Penulisan Sejarah Indonesia dari Perspektif Bangsa Sendiri
Foto: (Sumber: Tangkapan layar - Siaran Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menyampaikan sambutan dalam Gelar Wicara Sejarah di Jakarta, Sabtu (3/1/2026). ANTARA/Akun YouTube Indonesiana TV.)

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog Indonesia untuk aktif menulis hasil pemikiran dan temuan mereka terkait sejarah dan kekayaan alam Indonesia.

Dorongan ini bertujuan agar sejarah dan identitas bangsa dapat dicatat dari sudut pandang Indonesia sendiri, bukan hanya dari peneliti asing.

Dalam Gelar Wicara Sejarah yang digelar secara daring dari Jakarta pada Sabtu, Fadli Zon menyatakan bahwa selama ini sebagian besar catatan sejarah dan dokumentasi kekayaan alam Indonesia masih berasal dari ilmuwan luar negeri, khususnya dari Belanda.

Ia mencontohkan sosok Georg Eberhard Rumphius, ahli botani asal Jerman yang bekerja untuk perusahaan dagang Belanda, yang mendokumentasikan flora Ambon di Maluku.

Contoh lainnya adalah Alfred Russel Wallace, ilmuwan asal Inggris yang menjelajahi wilayah Nusantara untuk mengumpulkan spesimen dan mempelajari kondisi alam Indonesia.

Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa sejumlah buku mengenai Candi Borobudur ditulis oleh peneliti asing seperti Theodoor van Erp dan Krom pada tahun 1920, serta Leemans pada 1873.

"Belanda itu menulis apa saja, dia tulis perjalanan, catatan," ungkapnya.

Menulis Sebagai Upaya Menguatkan Identitas Nasional

Fadli Zon menyoroti bahwa budaya menulis di Indonesia masih belum kuat jika dibandingkan dengan tradisi bertutur.

"Kita ini mungkin kurang ada budaya menulis, mungkin lebih banyak budayanya bertutur. Bertutur ini penting, tetapi kan penutur sangat terbatas, kalau menulis itu abadi, publish or perish. Karena itulah kemudian kita harus menuliskan sejarah kita," ia mengungkapkan.

Ia menekankan pentingnya penulisan sejarah sebagai bagian dari upaya reinventing Indonesian identity, atau menemukan kembali dan memperkuat identitas nasional Indonesia.

"Paling penting bagaimana kita reinventing Indonesian identity, menemukan kembali, melengkapi, menyempurnakan identitas nasional Indonesia yang saya kira sebenarnya sangat kokoh tetapi mungkin belum kita elaborasi lebih jauh," ujarnya.

Fadli Zon berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin tertarik untuk menulis dan mempelajari sejarah sebagai bagian dari memahami jati diri bangsa.

"Pada prinsipnya tidak ada orang yang bisa terpisah dari masa lalu. Kalau orang mau tahu hari ini Indonesia, ya harus tahu masa lalu. Artinya antara masa lalu, masa kini dan masa depan itu tidak bisa dipisahkan sama sekali," tegasnya.

Penulis :
Gerry Eka