
Pantau - Bupati Agam Benni Warlis menegaskan perlunya penanganan teknis berbasis keilmuan terhadap Sungai Muaro Pisang di Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut akibat aliran sungai yang tertutup material longsor dari hulu.
Beberapa titik longsor terjadi di Kelok 25, 28, dan 42 di wilayah Matur Mudik, menyebabkan penyumbatan aliran sungai dan membentuk jalur air baru yang mengarah ke permukiman warga.
Dampak Serius Terhadap Warga dan Infrastruktur
Sebanyak 160 kepala keluarga atau 428 jiwa terdampak dan terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dan Bukittinggi putus total akibat timbunan material longsor setinggi satu meter sepanjang 30 meter.
Masyarakat dilanda kekhawatiran karena banjir bandang tetap terjadi meskipun tidak ada hujan, menandakan adanya tekanan air dari hulu yang belum tertangani.
Permintaan Solusi Struktural dan Ilmiah
Bupati Benni Warlis mengimbau agar penanganan tidak hanya fokus pada pembersihan aliran sungai di hilir menggunakan alat berat, tetapi juga dilakukan pendekatan teknis dari hulu.
"Kalau aliran di hilir tersumbat, kami bersihkan, tapi tanpa teknis di hulu, banjir tetap terjadi," ujarnya.
Ia menyebut telah mengajukan permintaan resmi kepada Gubernur Sumatera Barat dan Balai Wilayah Sungai (BWS) V untuk segera meninjau lokasi dan merumuskan solusi jangka panjang.
Solusi tersebut mencakup pembangunan pengendali air serta identifikasi dan rekayasa teknis dari bagian hulu sungai.
Perlunya Pendekatan Holistik
Pemerintah Kabupaten Agam menilai bahwa penanganan bencana di wilayah tersebut membutuhkan pendekatan holistik, dengan melibatkan keahlian di bidang hidrologi dan geoteknik.
Langkah ini dinilai krusial untuk mengantisipasi potensi banjir bandang susulan yang terus mengancam kawasan tersebut.
- Penulis :
- Gerry Eka








