Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Anak-anak Yatim Piatu Korban Banjir Bandang Didorong Dapatkan Tempat Penampungan Khusus dan Trauma Healing

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Anak-anak Yatim Piatu Korban Banjir Bandang Didorong Dapatkan Tempat Penampungan Khusus dan Trauma Healing
Foto: Ketua LPAI Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto memberikan pendampingan psikologis kepada anak didik di SD Negeri 07 Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis 8/1/2026 (sumber: ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Pantau - Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengusulkan kepada pemerintah dan pihak terkait agar menyiapkan tempat khusus bagi anak-anak yatim piatu yang menjadi korban banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Usulan Tempat Penampungan Khusus untuk Anak-anak Korban

"Iya, tentu saja disiapkan suatu penampungan bagi anak-anak yatim piatu korban bencana banjir bandang ini", ungkap Ketua LPAI Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto di Kota Padang, Kamis (8 Januari 2026).

Pernyataan tersebut disampaikan saat Kak Seto memberikan pendampingan psikologis (trauma healing) kepada anak-anak korban banjir bandang di SD Negeri 07 Kota Padang, Sumatera Barat.

Menurut Kak Seto, tempat penampungan tersebut harus mampu menciptakan ruang yang aman, kondusif, dan menyenangkan bagi anak-anak penyintas bencana.

Hal ini dinilai penting karena cukup banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka akibat bencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi tersebut.

Kolaborasi dengan Panti Asuhan dan Perguruan Tinggi

Sebagai solusi sementara, Kak Seto menyarankan kerja sama dengan panti asuhan sembari menunggu kesiapan pemerintah dalam menyediakan fasilitas khusus.

LPAI juga mengusulkan pendampingan psikologis dibantu oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mempercepat proses pemulihan anak-anak.

"Kita berharap perguruan tinggi juga mengambil peran bagaimana menciptakan lingkungan yang ramah anak sehingga rasa traumatik itu bisa segera hilang", ujar dia.

Kak Seto, psikolog kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951, menyampaikan bahwa proses pemulihan mental anak-anak korban banjir sangat beragam.

Menurutnya, faktor-faktor seperti kesiapan anak, kepribadian, daya resiliensi, intervensi dari pemerintah, serta program trauma healing akan sangat memengaruhi proses pemulihan tersebut.

"Jadi, yang penting kita berusaha optimal untuk meminimalkan jumlah korban yang mengalami trauma", ia mengungkapkan.

Penulis :
Shila Glorya