Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

WNI Terjebak di Pulau Sokotra Yaman Akibat Penutupan Wilayah Udara, Kemlu RI Upayakan Pemulangan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

WNI Terjebak di Pulau Sokotra Yaman Akibat Penutupan Wilayah Udara, Kemlu RI Upayakan Pemulangan
Foto: Plt. Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Heni Hamidah dalam taklimat media di Jakarta, Kamis 8/1/2026 (sumber: ANTARA/Cindy Frishanti)

Pantau - Tiga Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan terjebak di Pulau Sokotra, Yaman, sejak 3 Januari 2026 akibat penutupan wilayah udara oleh pemerintah Arab Saudi menyusul eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Kronologi dan Upaya Pemulangan

Ketiga WNI tersebut diketahui masuk ke Sokotra melalui jasa wisata tur Sokotra yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA).

Mereka tidak dapat meninggalkan pulau tersebut karena tidak ada penerbangan yang beroperasi sejak wilayah udara Yaman ditutup pada 30 Desember 2025, bertepatan dengan serangan militer terhadap pelabuhan Makala.

"Mereka terjebak di Sokotra akibat wilayah udara di Yaman ditutup oleh pemerintah Saudi pada saat serangan militer ke pelabuhan Makala Yaman pada 30 Desember lalu," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl A. Mulachela.

Hingga Kamis, 8 Januari 2026, Kemlu RI masih terus memantau kondisi para WNI tersebut yang dilaporkan dalam keadaan sehat dan aman.

"Perwakilan kita di Muscat maupun Abu Dhabi tengah mendorong agar ketiga WNI tersebut bisa ikut dalam penerbangan tersebut dan tentunya kita akan terus mengawal kasus ketiga WNI," ia mengungkapkan.

Sejak 7 Januari 2026, wilayah udara Yaman mulai dibuka kembali, dan pemerintah Indonesia mengupayakan agar para WNI tersebut dapat segera dipulangkan dengan penerbangan pada 8 dan 9 Januari 2026.

Kondisi di Yaman Memanas

Situasi di Yaman memanas sejak akhir Desember 2025 setelah pasukan Southern Transitional Council (STC) merebut kendali atas provinsi Hadramaut dan Al-Mahra.

Kedua provinsi tersebut mencakup hampir separuh wilayah Yaman dan berbatasan langsung dengan Arab Saudi.

Arab Saudi menuduh UEA mendukung operasi militer STC di wilayah selatan, namun tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Abu Dhabi.

STC menilai bahwa pemerintah Yaman telah meminggirkan wilayah selatan dan menyerukan pemisahan, sementara pemerintah Yaman menegaskan komitmennya terhadap persatuan nasional.

Vahd Nabyl menyampaikan bahwa Indonesia menyambut baik inisiatif Arab Saudi dalam memfasilitasi konferensi-konferensi perdamaian di Riyadh.

"Tujuannya adalah untuk mengupayakan adanya dialog yang inklusif melibatkan berbagai elemen di Yaman untuk bisa mengupayakan perdamaian dan juga untuk tetap memperhatikan integrasi wilayah di Yaman," jelasnya.

Kemlu juga mengimbau seluruh WNI untuk menghindari wilayah konflik, terutama di Yaman bagian selatan yang situasinya belum kondusif.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan WNI adalah prioritas utama, serta akan terus mendorong penyelesaian damai di Yaman.

Tidak ada laporan WNI menjadi korban dalam konflik di wilayah tersebut sejauh ini.

Penulis :
Leon Weldrick