Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Hidayat Nur Wahid Ajak Mahasiswa Aktif di Politik dan Tolak Apatisme Demokrasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Hidayat Nur Wahid Ajak Mahasiswa Aktif di Politik dan Tolak Apatisme Demokrasi
Foto: (Sumber: Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (tengah) HNW menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III. (ANTARA/HO-MPR RI).)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam membangun politik dan demokrasi yang lebih sehat serta tidak terjebak dalam sikap apatis.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap menjaga idealisme dan menjadi kekuatan moral yang mencerahkan rakyat, serta memperkuat politik berbasis nilai yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Menurut HNW, DPR menyediakan ruang partisipasi publik dan Badan Aspirasi Masyarakat yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, termasuk soal revisi undang-undang pemilu dan pilkada.

Mahasiswa Harus Jadi Sumber Optimisme Politik

Pernyataan ini disampaikan Hidayat saat menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (BEM PTMA) Zona III di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah isu politik dan penyampaian undangan kepada HNW untuk hadir sebagai pembicara utama dalam Rakorwil BEM PTMA Zona III yang akan digelar di Bandung pada 12–14 Februari mendatang.

Hidayat menyambut hangat kedatangan delapan mahasiswa, termasuk Presidium Nasional BEM PTMA Zona III Wildan Mutaqin, Presiden Mahasiswa Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTMJ) Sauqi, dan Presiden Mahasiswa Uhamka Agus.

Ia menyatakan bahwa politik dan demokrasi penuh paradoks, dan tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral.

Namun demikian, nilai-nilai yang diperjuangkan harus tetap dikawal, terlepas dari terpilih atau tidaknya seseorang dalam pemilu.

Menurutnya, partai politik adalah alat perjuangan kepentingan rakyat, bukan semata-mata kendaraan elektoral.

Kritik Mahasiswa dan Harapan Perbaikan Demokrasi

Dalam dialog tersebut, HNW juga menyoroti tantangan besar demokrasi di Indonesia, seperti biaya politik yang tinggi, politik uang, lemahnya netralitas aparat, serta rendahnya literasi politik masyarakat.

Ia menyebut bahwa menyalahkan rakyat saja tidak adil, karena perbaikan demokrasi harus dimulai dari hulu, yakni sistem kepartaian, mekanisme rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik.

"Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme. Mereka harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan," ungkap HNW.

Ia menambahkan, "Daripada mengutuk gelapnya malam, lebih baik menyalakan obor. Satu obor memang kecil, tetapi jika banyak obor dinyalakan bersama, akan memberi terang."

Ia juga menegaskan bahwa demokrasi tetap harus dipertahankan, karena alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik, melainkan berisiko mengarah pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme.

Para mahasiswa yang hadir mengapresiasi keterbukaan Hidayat Nur Wahid, yang dinilai sebagai politisi nasional yang mudah diakses dan bersedia berdialog bahkan dalam forum kecil.

Wildan Mutaqin menyatakan bahwa tidak semua pejabat publik memiliki keterbukaan seperti itu.

Mahasiswa juga menyampaikan pandangan kritis mereka mengenai mahalnya biaya politik, lemahnya kaderisasi partai, serta fenomena perpindahan kader antarpartai yang dinilai pragmatis.

Penulis :
Ahmad Yusuf