Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Sastra Lingkungan Jadi Cermin Kesadaran Ekologis: Antara Kritik Sosial dan Kearifan Budaya

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Sastra Lingkungan Jadi Cermin Kesadaran Ekologis: Antara Kritik Sosial dan Kearifan Budaya
Foto: (Sumber: Arsip. Seorang perempuan penyair membaca puisinya sesudah acara diskusi bertema Sastra - Lingkungan Hidup - Kaum Milenial di gedung Betawi Ngoempoel Creative Center, Tanah Baru, Depok, Jakarta, Sabtu (22/10/2022). (Antara Foto/Dodo Karundeng).)

Pantau - Peringatan Hari Lingkungan Hidup Nasional (HLHN) yang jatuh setiap 10 Januari menjadi momentum penting untuk merefleksikan hubungan manusia dan alam, salah satunya melalui karya sastra.

Karya sastra, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, selama ini telah menjadi medium untuk menyuarakan pengalaman manusia dalam menghadapi kerusakan lingkungan hidup.

Dalam kajian ekologi sastra, sastra tidak hanya dipandang sebagai produk estetika, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang rusak.

Kepala fungsi sastra dalam konteks ini adalah sebagai refleksi estetis, ruang empati, tempat berpikir imajinatif yang humanis, serta ekspresi kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan.

Sastra sebagai Suara Kritik dan Kesadaran Lingkungan

Contoh konkret dari peran sastra dalam isu lingkungan terlihat dari terbitnya buku Lelaki Tua yang Mencintai Flor De Mar pada awal tahun 2025, yang merupakan kumpulan cerpen bertema kritik terhadap kebijakan pagar laut.

Sebelumnya, pada tahun 2023, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerbitkan buku Sastra dan Ekologi yang memuat berbagai kajian hubungan timbal balik antara manusia dan alam dalam karya sastra.

Dalam karya-karya tersebut, tersampaikan ajakan untuk melestarikan alam serta kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam oleh manusia.

Pesan utamanya adalah bahwa karya sastra dapat dimanfaatkan untuk menyerukan pentingnya pelestarian lingkungan hidup.

Ekologi sastra sendiri merupakan bidang interdisipliner yang menggabungkan ilmu sastra dan ilmu lingkungan, menjadikan karya sastra sebagai ruang edukasi ekologis yang menyentuh kesadaran pembaca.

Secara sosiologis, sastrawan memiliki kedekatan dengan konteks sosial di sekitarnya, sehingga mampu menangkap, mengkritisi, dan mengekspresikan problem lingkungan melalui puisi, cerpen, hingga novel.

Nilai-Nilai Ekologis dalam Budaya dan Cerita Lisan

Sejak dahulu, cerita-cerita lisan dalam masyarakat Nusantara telah sarat dengan pesan-pesan lingkungan yang mengajarkan pentingnya keselarasan antara manusia dan alam.

"Tidak mengherankan bahwa nenek moyang telah mengajarkan bagaimana pentingnya harmonisasi manusia dengan lingkungan," ungkap satu refleksi yang muncul dalam kajian sastra lingkungan.

Dalam budaya Jawa, misalnya, terdapat filosofi tentang relasi antara Tuhan, manusia, dan alam semesta yang dikenal sebagai hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Makrokosmos atau jagat gedhe (dunia besar) dan mikrokosmos atau jagat cilik (dunia kecil) dipandang sebagai satu kesatuan yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan.

Manusia sebagai jagat cilik terbentuk dari unsur-unsur alam seperti tanah, air, api, dan angin yang berasal dari jagat gedhe.

Kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari alam ini dapat digambarkan melalui karya sastra yang menggugah emosi dan mengajak pada perenungan ekologis yang mendalam.

Karya sastra, dengan kekuatan bahasa dan imajinasi, mampu menghidupkan kesadaran ekologis dan menjadi jembatan antara kearifan budaya lokal dengan tantangan global dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Penulis :
Aditya Yohan