
Pantau - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan RSUD dr. Soedarso Pontianak sebagai rumah sakit pendidikan utama dalam rangka mendukung pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK Untan).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat ketersediaan tenaga dokter spesialis di wilayah Kalimantan Barat.
"Pemprov Kalbar berkomitmen penuh mendukung pembukaan PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif di FK Untan. RSUD dr. Soedarso kami tetapkan sebagai rumah sakit pendidikan utama dengan dukungan jejaring rumah sakit lain di Kalimantan Barat," ungkap Harisson, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalbar.
Penetapan ini juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat pendidikan dokter spesialis secara lokal.
Rumah sakit pendidikan yang kuat dinilai menjadi kunci dalam mencetak tenaga medis spesialis yang berkualitas dan siap melayani masyarakat.
Selain itu, kehadiran rumah sakit pendidikan di daerah diharapkan menjadi solusi terhadap kekurangan dokter spesialis yang selama ini menjadi tantangan utama pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat.
Tantangan Kekurangan Dokter Spesialis di Kalbar
Kalimantan Barat memiliki luas wilayah sekitar 1,1 kali Pulau Jawa, yang menyebabkan tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan.
Kebutuhan dokter spesialis di provinsi ini masih jauh dari angka ideal.
Berdasarkan standar nasional, idealnya terdapat 28 dokter spesialis per 100 ribu penduduk.
Dengan jumlah penduduk yang ada, Kalimantan Barat seharusnya memiliki sekitar 1.590 dokter spesialis.
Namun, hingga saat ini, baru terdapat sekitar 548 dokter spesialis di seluruh provinsi.
"Khusus dokter anestesi, idealnya Kalbar membutuhkan 113 orang, tetapi saat ini baru ada 42 orang. Kondisi ini berdampak langsung pada pelayanan kesehatan, terutama di daerah terpencil dan perbatasan," jelas Harisson.
Di wilayah perbatasan seperti Kapuas Hulu, sejumlah rumah sakit telah memiliki dokter bedah dan penyakit dalam, namun belum tersedia dokter anestesi.
Kondisi ini membuat pasien harus dirujuk ke daerah lain yang memerlukan waktu tempuh lebih lama dan mengganggu efektivitas pelayanan.
"Dengan adanya RSUD dr. Soedarso sebagai rumah sakit pendidikan utama, kami berharap percepatan pendidikan dokter anestesi dapat dilakukan di daerah sendiri, sehingga kebutuhan layanan kesehatan masyarakat bisa lebih cepat terpenuhi," ia menambahkan.
Prioritaskan Putra Daerah dan Dukungan Pemerintah Pusat
Harisson juga menekankan pentingnya memprioritaskan putra daerah dalam rekrutmen peserta pendidikan dokter spesialis.
"Dari sisi retensi, dokter putra daerah cenderung lebih bertahan lama. Karena itu kami berharap putra-putra daerah Kalbar dapat diprioritaskan dalam pendidikan ini," katanya.
Langkah ini mendapat dukungan dari Satgas Akselerasi PPDS Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
"Pembukaan prodi PPDS di daerah dan penguatan rumah sakit pendidikan seperti RSUD dr. Soedarso ini merupakan langkah strategis untuk memperbaiki distribusi dan retensi dokter spesialis," ungkap perwakilan Satgas.
Evaluasi lapangan terkait pembukaan prodi PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif turut dihadiri oleh Rektor Universitas Tanjungpura, pimpinan RSUD jejaring pendidikan, Tim Asesor Evaluasi Usulan PPDS, serta jajaran perangkat daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
- Penulis :
- Arian Mesa








