
Pantau - Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh dr. Putri Mutiara Sari menjelaskan bahwa gejala campak pada anak sering kali menyerupai flu biasa pada tahap awal.
Gejala tersebut biasanya muncul sekitar tujuh hingga 14 hari setelah anak terpapar virus campak.
Setelah gejala flu muncul, kondisi anak biasanya diikuti demam tinggi yang dapat meningkat hingga mencapai suhu sekitar 40°C.
Selain demam tinggi, anak juga dapat mengalami gejala pada sistem pernapasan dan mata seperti batuk kering, hidung tersumbat, serta mata merah dan berair.
Salah satu tanda khas campak adalah munculnya bintik koplik di dalam mulut tepatnya pada bagian dalam pipi.
Bintik koplik ditandai dengan munculnya bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah yang biasanya muncul satu hingga dua hari sebelum ruam merah terlihat pada bagian luar tubuh.
Ruam merah pada penderita campak umumnya muncul pertama kali di wajah dan belakang telinga sebelum menyebar secara bertahap ke seluruh tubuh hingga ke bagian kaki dalam waktu sekitar satu minggu.
Penanganan Campak pada Anak
Jika anak telah didiagnosis terkena campak, penanganan utama adalah menjaga kenyamanan anak serta mempercepat proses pemulihan.
Anak dianjurkan untuk beristirahat total dan menjalani isolasi agar penularan tidak menyebar kepada orang lain.
Pencegahan dehidrasi juga menjadi hal penting karena demam tinggi dan sariawan sering membuat anak malas minum.
Orang tua disarankan memberikan air putih, sup hangat, atau jus buah secara rutin untuk menjaga asupan cairan.
Selain itu anak juga dapat diberikan obat penurun panas sesuai anjuran dokter.
Dokter mengingatkan agar tidak memberikan aspirin kepada anak karena berisiko menimbulkan komplikasi fatal.
Apabila demam tinggi tidak kunjung turun dalam waktu tiga hari, anak harus segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Waspadai Tanda Bahaya dan Peningkatan Kasus
Beberapa tanda bahaya yang harus diwaspadai antara lain bibir sangat kering, jarang buang air kecil, serta gangguan pernapasan seperti sesak napas atau nyeri dada.
Kondisi anak yang tampak sangat lemas, tidak sadar, atau mengalami kejang juga harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Tanpa penanganan medis yang tepat, campak dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti infeksi telinga, paru-paru basah, hingga ensefalitis atau radang otak.
Sebelumnya Dinas Kesehatan Kota Tangerang juga mengimbau anak-anak yang mengalami gejala campak untuk tidak berangkat ke sekolah guna mencegah penularan yang lebih luas.
Penularan campak tidak hanya terjadi melalui kontak langsung dengan penderita tetapi juga dapat menyebar melalui udara dari percikan batuk dan bersin.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat adanya peningkatan kasus campak sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026.
Jumlah kasus yang terjadi mencapai ratusan setiap bulan dengan angka yang bersifat fluktuatif setiap minggunya.
Lonjakan tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sehingga menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan sektor kesehatan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







