
Pantau - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menegaskan bahwa jalur evakuasi merupakan komponen krusial dalam strategi pengurangan risiko bencana, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam.
Ketua Badan Kebencanaan dan Perubahan Iklim PII, Prof. I Wayan Sengara, menyatakan bahwa keselamatan publik dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang terbuka, jalur evakuasi, dan bangunan evakuasi yang dirancang dengan baik.
Perlu Dimasukkan dalam Program Pembangunan Nasional
Prof. Wayan, yang juga Guru Besar Rekayasa Geoteknik di Institut Teknologi Bandung (ITB), menyarankan agar jalur evakuasi dan bangunan evakuasi dimasukkan dalam program pembangunan infrastruktur nasional.
Ia menekankan bahwa fasilitas tersebut wajib tersedia terutama di wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, seperti kawasan rawan gempa, banjir, maupun tsunami.
Menurutnya, keberadaan infrastruktur evakuasi yang terencana akan meningkatkan efektivitas penyelamatan saat terjadi bencana.
Peran Masyarakat dan Pemetaan Risiko
Selain pembangunan fisik, Prof. Wayan juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana harus diberi sosialisasi mengenai lokasi dan fungsi jalur serta bangunan evakuasi.
Apabila fasilitas evakuasi belum tersedia, masyarakat tetap diminta untuk bersiaga dan memahami potensi bencana berdasarkan informasi dari pemerintah maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
PII juga mendorong masyarakat untuk mengidentifikasi jalur dan tempat evakuasi berbasis komunitas lokal sebagai upaya mandiri dalam pengurangan risiko.
Pengurangan risiko bencana tetap harus mengacu pada hasil pemetaan bahaya dan tingkat risiko, yang diharapkan disediakan secara komprehensif oleh instansi terkait seperti pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
- Penulis :
- Aditya Yohan








