
Pantau - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peringatan Isra Miraj tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus dimaknai secara mendalam dan diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan serta penguatan spiritualitas pribadi yang bertakwa.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat, sebagai refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah / 2026 Masehi.
"Isra Miraj merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat di luar nalar manusia pada umumnya", ungkapnya.
Bangun Relasi Ketuhanan dan Kesalehan Sosial
Haedar mengatakan bahwa Isra Miraj dapat dijadikan sebagai titik awal dalam membangun relasi ketuhanan, baik bagi warga maupun pemimpin bangsa.
Relasi tersebut bertujuan memperkuat tauhid, iman, dan takwa, sehingga membangkitkan kesalehan pribadi yang menjadi rambu moral dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalehan ini, menurutnya, harus mampu mencegah seseorang dari perilaku buruk seperti:
- Korupsi
- Penyalahgunaan kekuasaan
- Perilaku jahat
- Ucapan kasar
- Tindakan tidak pantas lainnya
"Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan, dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah", jelas Haedar.
Ia menjelaskan bahwa murakabah adalah kesadaran spiritual mendalam bahwa seseorang merasa terus diawasi oleh Allah.
"Jika relasi ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan pemimpin, diharapkan hasrat untuk berperilaku buruk tidak jadi dilakukan", tegasnya.
Keteladanan Pemimpin sebagai Oase Bangsa
Haedar Nashir juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini mengalami kegersangan dalam keteladanan, baik di kalangan umat beragama maupun para pemimpinnya.
Ia mengajak agar peringatan Isra Miraj menjadi momen untuk menggali dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW secara otentik.
"Mari jadikan peringatan Isra Miraj untuk belajar terus menerus menampilkan keteladanan yang otentik", ujarnya.
Haedar mengimbau para pemimpin bangsa menjadikan Isra Miraj sebagai cermin untuk bertindak dan berkata secara bijaksana, sehingga mampu membangun kepercayaan publik.
Kepada kalangan elit, Haedar menekankan pentingnya keselarasan antara ajaran agama dengan perilaku sehari-hari.
Ajaran luhur tidak boleh bertentangan dengan tindakan, karena hal tersebut akan merusak kepercayaan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa tugas para elit di setiap tingkatan adalah menjadi "oase keteladanan" yang mampu menghilangkan dahaga masyarakat akan sosok pemimpin yang baik.
"Jika peran suasana itu dijalankan, kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan", pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







