
Pantau – PT MRT Jakarta Perseroda menargetkan 50 juta pelanggan pada tahun 2026 seiring peningkatan pelayanan dan pengembangan fasilitas transportasi publik.
Target ini disampaikan Direktur Utama PT MRT Jakarta Perseroda Tuhiyat saat peletakan batu pertama pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni Lin Utara–Selatan di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026. Tuhiyat menjelaskan, “Di tahun 2026, kami bertekad meningkatkan rata-rata harian dari 127 ribu menjadi 137 ribu pelanggan per hari atau mendekati angka 50 juta pelanggan per setahun.”
Data tahun 2025 mencatat total pelanggan MRT Jakarta mencapai 46,5 juta orang dengan rata-rata harian lebih dari 127.000 pelanggan. Pembangunan MRT Fase 2 menjadi tahap penting dalam pengembangan sistem transportasi massal modern yang menghubungkan pusat kota hingga wilayah utara Jakarta.
Proses pembangunan tahun 2025 untuk CP202 mencapai 61 persen, sementara Stasiun Harmoni mencapai 56 persen. Tuhiyat menargetkan penyelesaian pembangunan Stasiun Bundaran H-Monas pada 2027, dan lintasan Stasiun Harmoni hingga Kota pada 2029.
Pembangunan MRT Fase 2 Thamrin–Kota dibiayai oleh Japan International Cooperation Agency melalui skema tri-sub-driver agreement, dengan biaya Fase 2A mencapai sekitar Rp25,3 triliun. Pendanaan berasal dari pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Berbeda dengan Fase 1, pembangunan Fase 2A dilakukan bersamaan dengan pengembangan kawasan stasiun menggunakan konsep transit-oriented development (TOD). Konsep ini mengintegrasikan fungsi transit dengan aktivitas manusia, bangunan, dan ruang publik untuk mengoptimalkan akses transportasi publik sekaligus meningkatkan daya angkut penumpang.
Dengan pembangunan Fase 2 dan konsep TOD, MRT Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi moda transportasi cepat, tetapi juga menghadirkan kawasan perkotaan yang terintegrasi, nyaman, dan ramah bagi masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







