
Pantau - Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, berharap pertemuan Managing Child Health for Healthcare Workforce yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) mampu menghasilkan rekomendasi aplikatif demi peningkatan layanan kesehatan anak.
Lokakarya yang berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Januari 2026 di Makassar, dihadiri oleh delegasi dari sejumlah negara sahabat di kawasan Asia Pasifik.
Dorong Sinergi dan Rekomendasi Aplikatif
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan bahwa forum ini merupakan momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah konkret dan strategis.
Langkah ini bertujuan mewujudkan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan, adil, dan merata, khususnya di Kota Makassar.
Munafri, yang akrab disapa Appi, menekankan pentingnya komitmen bersama demi pembangunan yang inklusif dan kompetitif untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan wilayah.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan Visi APEC 2040 dan Rencana Strategis APEC Health Working Group (HWG) 2021–2025, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia kesehatan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.
Munafri berharap peserta lokakarya dapat memberikan rekomendasi konkret terkait pengembangan layanan kesehatan anak yang relevan dengan kebutuhan daerah dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Makassar.
Tantangan Kesehatan Anak dan Kesenjangan Kawasan
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus, dalam sambutannya saat pembukaan lokakarya menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dalam sektor tenaga kesehatan.
Menurutnya, kesehatan anak merupakan pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia masa depan.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pendidikan sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.
Benyamin mengungkapkan bahwa kesehatan anak masih menjadi tantangan besar di beberapa negara berkembang anggota APEC, termasuk Indonesia.
Ia menyebut adanya kesenjangan capaian kesehatan anak antarnegara di kawasan APEC, yang memerlukan penanganan bersama dan pendekatan yang terintegrasi.
Data dari World Population Review menunjukkan bahwa angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) di negara maju seperti Singapura dan Hong Kong berkisar antara 1,5 hingga 6,2 per 1.000 kelahiran hidup.
Sementara itu, angka kematian bayi di Indonesia tercatat sebesar 18,9 per 1.000 kelahiran hidup, dan di Papua Nugini mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.
Kesenjangan ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup anak-anak, tetapi juga memberikan pengaruh jangka panjang terhadap pembangunan sosial dan ekonomi negara-negara di kawasan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







