
Pantau - Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menilai bahwa minat wisatawan mancanegara ke Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Bambang mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kalah jauh dari negara-negara tetangga.
Ia menyampaikan data tahun 2025 yang menunjukkan bahwa Malaysia berhasil merealisasikan 38 juta kunjungan dari target 40 juta wisatawan.
Thailand mencatat 39 juta kunjungan wisatawan, sementara Vietnam mencapai 22 juta, yang merupakan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, kunjungan wisatawan ke Indonesia belum mampu menyamai pencapaian tersebut, meskipun pada periode 2017–2018 sempat setara dengan Malaysia.
Transportasi Jadi Masalah Utama Pariwisata Indonesia
Bambang menyebut belum terintegrasinya sistem transportasi pariwisata sebagai penyebab utama rendahnya minat wisatawan asing.
Ia menyoroti bahwa negara-negara tetangga telah berhasil mengintegrasikan moda transportasi udara, darat, dan laut dengan sistem transportasi publik yang nyaman dan efisien.
"Di negara lain, dari bandara sampai ke hotel dan destinasi wisata sudah terintegrasi. Sementara di Indonesia, ke hotel saja sering kali harus pakai transportasi pribadi", jelasnya.
Ia juga menyoroti aspek keamanan dan keselamatan dalam transportasi wisata di Indonesia, terutama pada bus pariwisata yang sering dikemudikan oleh sopir tanpa pelatihan keselamatan khusus.
"Sering kali sopir bus pariwisata diambil asal comot, bahkan ada yang sebelumnya sopir truk. Padahal sopir pariwisata itu harus punya keahlian khusus karena menyangkut keselamatan", ungkapnya.
Kapal Wisata Tidak Aman, Polisi Pariwisata Perlu Dibentuk
Tak hanya darat, Bambang juga menyoroti kondisi transportasi laut wisata, khususnya kapal-kapal wisata di wilayah kepulauan seperti Lombok.
Ia menyebut banyak kapal wisata belum terdaftar di Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang memiliki standar internasional.
Menurut data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), banyak kecelakaan kapal terjadi karena masalah stabilitas kapal.
Dalam dua tahun terakhir, sedikitnya enam insiden kapal wisata tenggelam terjadi di Indonesia yang melibatkan turis.
Bambang menyebut belum ada pembenahan signifikan dari otoritas terkait, dan kondisi ini dinilai mencoreng citra Indonesia di mata wisatawan internasional.
Ia juga mendorong pembentukan polisi pariwisata khusus sebagaimana telah diterapkan di sejumlah negara ASEAN.
"Di Malaysia, Filipina, dan negara ASEAN lain sudah ada polisi khusus pariwisata. Indonesia juga perlu menyediakan aparat khusus untuk melindungi dan melayani wisatawan", tegasnya.
Menutup pernyataannya, Bambang berharap Kementerian Pariwisata segera melakukan pembenahan menyeluruh agar tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan sektor pariwisata nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







