Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Banjir Bandang Lubawang Situbondo Menyisakan Luka Mendalam Warga

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Banjir Bandang Lubawang Situbondo Menyisakan Luka Mendalam Warga
Foto: (Sumber: Halid Firdausi dan anaknya membersihkan material lumpur yang masuk ke dalam rumahnya menyusul banjir bandang yang menerjang Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Novi Husdinariyanto/aa..)

Pantau - Perjuangan warga bertahan hidup saat banjir bandang menerjang Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, tergambar dari kisah Halid Firdausi, salah satu dari ratusan korban terdampak bencana tersebut.

Halid Firdausi, 40 tahun, mengajak wartawan LKBN ANTARA melihat langsung kondisi rumahnya yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang.

Ia berkata, "Pak, mari ikut ke dalam, lihat kondisi rumah saya, jebol, dan dagangan di depan rumah juga habis dibawa banjir," ungkapnya.

Rumah semi permanen milik Halid Firdausi tampak nyaris ambruk dan dipenuhi material banjir berupa lumpur, kayu, ranting, serta sampah.

Banjir bandang tersebut terjadi pada Rabu, 21 Januari 2026, akibat luapan Sungai Lubawang setelah hujan berintensitas tinggi.

Dengan suara relatif tenang, Halid Firdausi menceritakan bagaimana dinding samping dan belakang rumahnya jebol dalam waktu singkat diterjang arus deras.

Sorot mata Halid Firdausi mencerminkan ketegaran yang dipaksakan di tengah kesedihan yang tertahan.

Halid Firdausi sehari-hari bekerja sebagai buruh tani untuk menafkahi keluarganya.

Peristiwa paling menyakitkan bagi keluarganya terjadi pada Rabu malam sekitar pukul 18.15 WIB.

Toko kecil berukuran sekitar 1,5 meter x 2 meter di depan rumah yang dikelola istrinya sebagai sumber penghasilan tambahan hancur diterjang banjir bandang.

Bangunan toko dari kayu dan asbes beserta seluruh dagangannya lenyap terbawa arus, menyisakan sebagian kecil barang yang tercampur lumpur.

Kebutuhan dasar keluarga seperti pakaian, seragam anak, kasur, dan perabotan rumah tangga habis tersapu banjir.

Halid Firdausi memilih bertahan di rumah bersama istri dan anaknya saat banjir bandang datang.

Ia mengungkapkan, "Saya tidak menyangka akan terjadi banjir bandang sebesar ini, dan saya bertahan di rumah bersama keluarga, sembari menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Kalau pakaian dan seragam anak, kasur, dan perabotan lainnya sudah lenyap terbawa banjir," katanya.

Banjir bandang membawa material kayu, ranting, dan lumpur dengan ketinggian lebih dari 1,5 meter yang mengancam keselamatan keluarga.

Desa Lubawang menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah dengan 440 unit rumah mengalami kerusakan, sebagian besar rusak berat.

Desa Kalianget di Kecamatan Banyuglugur juga terdampak dengan 246 unit rumah rusak.

Di Kecamatan Besuki, luapan Sungai Lubawang merendam 5.425 rumah warga.

Rumah terdampak di Kecamatan Besuki tersebar di Desa Pesisir sebanyak 2.882 rumah.

  • Desa Kalimas terdampak 193 rumah.
  • Desa Demung terdampak 44 rumah.
  • Desa Besuki terdampak 2.306 rumah.

Banjir bandang di Kecamatan Besuki juga menelan korban jiwa.

Korban meninggal dunia tercatat Abdul Wahed, 45 tahun, dan anaknya Adinda Putri Rahayu.

Keduanya meninggal akibat tersengat listrik saat banjir menggenangi rumah warga.

Hujan berintensitas tinggi pada Rabu, 21 Januari 2026, juga menyebabkan sejumlah sungai meluap di wilayah lain.

Luapan sungai menggenangi 113 rumah di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan.

Sebanyak 169 rumah terdampak di Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan.

Di Desa sekaligus Kecamatan Kendit, banjir menggenangi 154 rumah warga.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti