
Pantau - Kementerian Agama menegaskan konsep ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana, melainkan harus diwujudkan menjadi perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad menyampaikan bahwa ekoteologi merupakan bagian dari nilai keislaman yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai cerminan iman.
Abu Rokhmad menegaskan bahwa iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam tanggung jawab menjaga kelestarian alam.
Pengarusutamaan Ekoteologi dalam Program Keagamaan
Dalam satu tahun terakhir, Kementerian Agama melakukan pengarusutamaan ekoteologi melalui berbagai program pembinaan umat berbasis lingkungan.
Direktorat Jenderal Bimas Islam mengembangkan program hutan wakaf sebagai salah satu bentuk konkret pengamalan ekoteologi.
Pengembangan Hutan Wakaf dilakukan seluas 40 hektare yang tersebar di 11 lokasi.
Program Hutan Wakaf tersebut disinergikan dengan IPB, MOSAIC, dan Badan Wakaf Indonesia.
Selain itu, Kementerian Agama membangun 154 Kantor Urusan Agama dengan konsep green building yang mendukung prinsip bangunan ramah lingkungan.
Program wakaf pohon juga melibatkan 1,5 juta calon pengantin sebagai bagian dari edukasi lingkungan berbasis keluarga.
Masjid dan Majelis Taklim sebagai Pusat Edukasi Lingkungan
Peran masjid ditekankan sebagai pusat edukasi ekoteologi bagi masyarakat.
Saat ini terdapat 1.507 masjid percontohan yang dikembangkan sebagai masjid ramah lingkungan.
Masjid tidak hanya difungsikan sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan peningkatan kesadaran ekologis.
Gerakan ekoteologi juga dijalankan melalui Majelis Taklim dengan program penanaman satu juta pohon matoa.
Program penanaman pohon tersebut bertujuan menumbuhkan kepedulian lingkungan di tingkat komunitas.
Penguatan Landasan Akademik Ekoteologi
Pada aspek akademik, Kementerian Agama memperkuat narasi keagamaan berbasis lingkungan melalui pendekatan ilmiah.
Kementerian Agama menggelar International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth yang melibatkan para pakar dan akademisi.
Konferensi tersebut dinilai penting untuk memperkuat landasan ilmiah dan literasi ekoteologi di tingkat global.
Abu Rokhmad menegaskan pesan lingkungan harus menjadi bagian dari ajaran agama yang mudah dipahami dan diamalkan oleh umat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







