Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Warga Desa Sekumur yang Hilang Diterjang Banjir Butuh Benih Palawija dan Pakaian Muslim Jelang Ramadhan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Warga Desa Sekumur yang Hilang Diterjang Banjir Butuh Benih Palawija dan Pakaian Muslim Jelang Ramadhan
Foto: (Sumber: Amhar (50), warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang ditemui ANTARA di Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, yang terdampak banjir besar hingga desanya dinyatakan hilang, membutuhkan bantuan benih palawija dan pakaian Muslim menjelang Ramadhan 2026.

Ingin Bangkit, Warga Minta Bibit untuk Bercocok Tanam

Datok Penghulu atau Kepala Desa Sekumur, Sofyan Iskandar, menyampaikan bahwa warga berharap mendapat bantuan bibit palawija seperti kangkung, bayam, dan bibit padi agar dapat kembali beraktivitas setelah seluruh kebun sawit dan karet mereka rusak total.

"Harapan kami kepada pemerintah untuk bisa membantu desa kami, masyarakat kami dengan bibit palawija biar bisa masyarakat kami bercocok tanam seperti kangkung, bibit bayam, bibit padi, biar masyarakat kami ada berkegiatan," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak ingin terus bergantung pada bantuan, dan ingin bangkit dengan usaha sendiri.

"Karena kami yakin dan percaya tidak selamanya kami masyarakat Sekumur bisa bergantung dengan tangan di bawah," tambahnya.

"Jadi kalaupun kami dikasih bibit palawija setidaknya kami masyarakat Sekumur bisa berkegiatan cari keringat. Kalau tidak kami yang sudah pasti pagi keluar dari tenda pasti merenung, tidak tahu kegiatan apa pun," ujarnya.

Selain kebutuhan pangan, Sofyan menyebut pakaian Muslim menjadi kebutuhan mendesak menjelang Ramadhan.

"Mungkin orang bertanya tentang Kampung Sekumur, apa yang dibutuhkan, kami masyarakat Sekumur setidaknya kami menyambut bulan suci Ramadhan ini kami butuh baju Muslim untuk kami beribadah. Kalau sarung insya Allah kami sudah mencukupi tapi baju Muslim untuk beribadah masih kurang," katanya.

Desa Hilang, Warga Bertahan di Tenda dengan Harapan Hunian Sementara Segera Datang

Desa Sekumur dinyatakan sebagai kampung yang hilang karena hampir seluruh permukiman hanyut akibat banjir besar.

Dari 276 kepala keluarga atau 1.232 jiwa, hanya delapan rumah yang tersisa, itupun dalam kondisi rusak parah.

Seluruh warga kini tinggal di tenda pengungsian, dengan logistik mencukupi namun tanpa aktivitas ekonomi harian karena 98 persen kebun sawit dan karet milik warga rusak total.

"Masyarakat memang saat ini tergantung dengan bantuan karena semua pertanian masyarakat habis. Rata-rata di sini bertani sawit dan karet. Kebun karet dan kebun sawit semuanya sudah habis, 98 persen habis dibawa banjir," jelas Sofyan.

Pembersihan pascabanjir sudah dimulai dengan bantuan ekskavator dari Kementerian PUPR dan BNPB.

Sebanyak lima ekskavator telah bekerja membuka akses jalan, membersihkan lumpur, serta memperbaiki fasilitas vital seperti masjid, sekolah, dan puskesmas pembantu.

Tiga alat berat tambahan jenis capit juga direncanakan untuk mempercepat proses pemulihan.

Masjid menjadi prioritas utama dalam pembersihan agar shalat Jumat dapat kembali dilaksanakan.

Pemerintah desa berharap hunian sementara segera dibangun agar warga tidak menjalani Ramadhan di dalam tenda.

Amhar (50), salah satu warga Sekumur, menceritakan detik-detik banjir saat ia menyelamatkan keluarganya ke kebun sawit di dataran tinggi dan kembali ke rumah yang ternyata sudah terendam.

Saat mengungsi ke perbukitan, ia hanya membawa kelambu, kompor, dan beras.

Beberapa hari kemudian, ia membangun atap sederhana dari sisa material untuk berteduh di lokasi rumahnya yang sudah hanyut dan rusak total.

Menjelang Ramadhan, ia berharap listrik segera masuk ke Desa Sekumur agar ibadah dan aktivitas warga bisa berjalan dengan layak.

Penulis :
Gerry Eka