
Pantau - Memasuki usianya yang ke-100 pada 31 Januari 2026, Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan perannya sebagai pilar penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memperkuat Pancasila, dan membangun peradaban Islam yang ramah terhadap keberagaman.
Seabad Kiprah NU untuk Bangsa dan Dunia Islam
Sejak didirikan pada tahun 1926, NU telah memberikan kontribusi besar terhadap perjuangan dan kemerdekaan Indonesia.
Pada era 1940-an, NU secara tegas menolak gerakan Darul Islam (DI) yang dipimpin Kartosoewirjo.
KH Abdul Wahab Chasbullah menyebut gerakan DI sebagai bughot atau pemberontakan yang harus dibasmi karena bertentangan dengan persatuan bangsa.
Di kancah internasional, NU juga memainkan peran penting melalui pembentukan Komite Hijaz atas restu Hadratus Syaikh KHM Hasyim Asy’ari.
Komite ini dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan mengusulkan tiga hal kepada otoritas di Makkah:
- Kebebasan bermazhab dalam ibadah
- Perlindungan makam Nabi Muhammad SAW dari penghancuran
- Perbaikan pelaksanaan ibadah haji
Ketiga usulan tersebut diterima dan menjadi tonggak penting dalam peran global NU dalam Islam moderat.
NU juga dikenal sebagai organisasi keagamaan yang membangun konsep keberagamaan Islam yang damai dan inklusif melalui tiga fondasi utama: amaliyah (praktik), firkah (ideologi), dan harakah (gerakan).
Amaliyah merujuk pada praktik keagamaan dan sosial yang berlandaskan al-Quran, sunnah, dan tradisi ulama salaf dalam kerangka Ahlussunnah Waljama’ah.
Secara ideologis atau firkah, NU menjunjung nilai-nilai dasar seperti tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), dan ta’addul (adil).
Nilai-nilai tersebut menjadi dasar NU dalam merespons dinamika sosial, perubahan ideologi, dan perkembangan keagamaan di Indonesia.
Dalam aspek gerakan atau harakah, NU terus melakukan penguatan di berbagai sektor, mulai dari ideologi, amaliyah, sumber daya manusia, budaya, hingga ekonomi dan kesehatan warga.
Seluruhnya tetap berpegang pada khittah NU yang berlandaskan prinsip NKRI dan Pancasila.
Tantangan Baru Menuju Abad Kedua NU
Memasuki abad kedua (2026–2126), NU menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan terpolarisasi.
Di tengah kemajuan teknologi digital yang masif, kemajuan moral dan spiritual manusia tidak selalu mengikuti laju perkembangan teknologi.
Peneliti dan pendiri Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, dalam survei tahun 2025 mengungkapkan bahwa internet kini menjadi rujukan utama dalam hampir semua aspek kehidupan, termasuk dalam urusan agama.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa otoritas keagamaan tidak lagi hanya bersumber dari mimbar atau lembaga formal, tetapi juga muncul dalam berbagai bentuk digital yang menjangkau lintas usia dan kelas sosial.
Survei yang sama menyebutkan enam sumber utama rujukan keagamaan masyarakat Indonesia:
- Ustaz atau kiai di lingkungan rumah
- Internet
- Orang tua
- Guru atau dosen agama
- Teman
- Buku agama
Perubahan lanskap otoritas keagamaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi NU untuk terus beradaptasi, tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah dijaga selama satu abad.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







