Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Seluruh Destinasi Wisata Alam di Aceh Tamiang Lumpuh Total Pascabencana, Pemulihan Diperkirakan Makan Waktu Lama

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Seluruh Destinasi Wisata Alam di Aceh Tamiang Lumpuh Total Pascabencana, Pemulihan Diperkirakan Makan Waktu Lama
Foto: (Sumber: Kondisi objek wisata air terjun Sangka Pane, Kecamatan Bandar Pusaka pascabanjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tamiang, Minggu (1/2/2026). ANTARA/Dokumen pribadi.)

Pantau - Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) menyatakan bahwa seluruh destinasi wisata alam di Aceh Tamiang masih lumpuh total pascabencana banjir bandang dan tanah longsor dua bulan lalu.

Thamrindu Lubis, Kabid Pariwisata dan Ekonomi Disparpora Aceh Tamiang, menyebut selama dua bulan terakhir tidak ada wisatawan yang berkunjung ke destinasi seperti air terjun dan wisata bahari.

Padahal sebelum bencana, setiap objek wisata di Aceh Tamiang rutin menerima hampir 1.000 pengunjung per minggu.

Dalam satu tahun, daerah ini mencatat sekitar 70.000 kunjungan wisatawan lokal dan luar daerah yang tersebar di 14 destinasi wisata alam.

Beberapa objek wisata paling ramai sebelumnya antara lain Pemandian Sungai Gunung Pandan Tenggulun yang mencatat ±600 wisatawan per minggu, dan Pantai Pulau Rukui, Banda Mulia, yang menarik ±800 wisatawan per minggu.

Akses Masih Tertutup dan Fasilitas Rusak Berat

Saat ini, akses jalan ke objek-objek wisata masih tertutup lumpur dan kayu-kayu besar akibat banjir bandang, menyebabkan nihilnya kunjungan wisatawan.

Tiga destinasi utama—Gunung Pandan, Pulau Rukui, dan pemandian air panas Kaloy di Tamiang Hulu—dilaporkan dalam kondisi porak-poranda.

Seluruh fasilitas umum seperti homestay, pondok santai, gazebo, dan MCK mengalami kerusakan berat, bahkan sekitar 50–60 persen fasilitas yang dibangun pemerintah hancur total.

Gunung Pandan yang berada di dataran tinggi juga terkena dampak tanah longsor, dan akses ke lokasi tersebut masih belum bisa dilewati.

Thamrindu menyatakan bahwa pemulihan destinasi akan memakan waktu lama, terutama karena banyak lokasi wisata masih tertutup batang kayu besar sisa banjir.

Meski demikian, Disparpora menargetkan objek wisata Gunung Pandan dapat kembali beroperasi setelah Lebaran 2026.

Langkah Awal: Pendataan oleh Pokdarwis

Langkah awal yang sedang dilakukan saat ini adalah pendataan kerusakan dan kebutuhan alat oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) dari desa-desa terdampak.

"Kami sudah panggil semua kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa masing-masing untuk mendata kerusakan dan kebutuhan alat yang diperlukan, kami akan segera fasilitasi," ujar Thamrindu.

Penulis :
Gerry Eka