
Pantau - Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiagakan layanan kesehatan selama 24 jam untuk membantu korban banjir yang melanda wilayah tersebut dalam dua pekan terakhir.
Posko Kesehatan dan Pemantauan Keliling Diaktifkan
Sekretaris Dinkes Kabupaten Bekasi, Supriadinata, mengatakan bahwa tim medis telah diterjunkan ke berbagai titik terdampak untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.
"Banjir tahun ini memang cukup luar biasa. Kami fokus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan membentuk pos-pos kesehatan di wilayah terdampak banjir, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi," ungkapnya.
Wilayah prioritas meliputi Kecamatan Babelan, Tarumajaya, dan Muaragembong.
Selain mendirikan posko kesehatan tetap, tim medis juga melakukan pemantauan keliling agar layanan langsung dapat menjangkau masyarakat.
Seluruh puskesmas di Kabupaten Bekasi diinstruksikan untuk buka 24 jam, mengirimkan tenaga medis ke lapangan secara bergiliran, dan membagi petugas ke dalam lima kelompok, masing-masing terdiri dari tenaga dari empat hingga lima puskesmas.
Supriadinata mengingatkan bahwa banjir menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, dengan penyakit kulit dan gangguan saluran pernapasan menjadi keluhan terbanyak.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kualitas air minum dan menghindari penyakit akibat air tercemar.
"Kami mengingatkan masyarakat agar memastikan air yang digunakan untuk minum benar-benar bersih serta mewaspadai penyakit yang bersumber dari air tercemar seperti leptospirosis dan penyakit kulit," ujarnya.
Supriadinata juga berpesan kepada para tenaga medis, "Kami mengimbau tim medis untuk tetap menjaga kesehatan, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup serta selalu membersihkan diri setelah bertugas di lokasi banjir."
Puskesmas Keliling Gunakan Perahu Karet, Obat Mulai Menipis
Kepala Puskesmas Muaragembong, dr Ridwan Meito Tomanyira, menjelaskan bahwa pihaknya mengoperasikan layanan puskesmas keliling (pusling) dengan metode jemput bola, menyasar lokasi banjir dan titik pengungsian dari pagi hingga sore.
Untuk menjangkau wilayah yang tergenang, tim medis menggunakan perahu karet dari BPBD Kabupaten Bekasi karena banyak akses yang tidak bisa dilalui kendaraan darat.
Penyakit yang paling sering ditemukan di lapangan antara lain diare, gatal-gatal, penyakit kulit, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Namun, kendala utama saat ini adalah keterbatasan persediaan obat, sehingga dibutuhkan dukungan logistik tambahan.
Pasien yang memerlukan perawatan lanjutan akan dirujuk ke rumah sakit.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi per Minggu (1 Februari 2026), banjir masih menggenangi 45 desa di 13 kecamatan, dengan total 194 titik terdampak.
Sebanyak 51.796 kepala keluarga terdampak banjir tahunan ini, dan 1.388 KK atau 4.508 jiwa mengungsi di 18 titik pengungsian yang disediakan pemerintah daerah.
- Penulis :
- Gerry Eka







