Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Erupsi Gunung Marapi Tak Ganggu Penerbangan, Bandara Minangkabau Pastikan Operasional Tetap Normal

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Erupsi Gunung Marapi Tak Ganggu Penerbangan, Bandara Minangkabau Pastikan Operasional Tetap Normal
Foto: (Sumber: Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat meletus pada Kamis malam (5/2/2026) pukul 22.25 WIB. Antara/HO-warga.)

Pantau - Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman, Sumatera Barat memastikan operasional penerbangan tetap berjalan normal pasca erupsi Gunung Marapi pada Kamis malam, 5 Februari 2026.

Erupsi terjadi pukul 22.25 WIB dan sempat memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap keselamatan penerbangan.

Branch Communication & CSR BIM, Feni Lindriany, menyatakan bahwa hingga saat ini penerbangan masih berjalan aman.

"Kondisi penerbangan masih aman. Alhamdulillah, sejauh ini observasi kami menggunakan paper test dinyatakan negatif," ungkapnya.

Abu Vulkanik Tidak Capai Bandara

Feni menegaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan abu vulkanik dari erupsi Gunung Marapi tidak mencapai kawasan operasional bandara.

"Abu vulkanik dari erupsi tidak sampai ke daerah bandara dan dipastikan penerbangan saat ini dalam kondisi aman," ia mengungkapkan.

Meski demikian, pihak BIM tetap melakukan pemantauan intensif dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi perubahan arah angin dan penyebaran abu vulkanik.

Kolom Abu Capai 5.891 Meter di Atas Permukaan Laut

Gunung Marapi yang terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai 3.000 meter dari puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, Teguh Firmansyah, melaporkan bahwa kolom abu terpantau mencapai 5.891 meter di atas permukaan laut.

"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah timur laut," jelasnya.

Erupsi tersebut juga terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,3 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 27 detik.

Pihak terkait terus memantau aktivitas vulkanik untuk mengambil langkah lanjutan jika situasi memburuk.

Penulis :
Aditya Yohan