Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Papua Barat Jadi Tuan Rumah Simposium Flora Malesiana dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Papua Barat Jadi Tuan Rumah Simposium Flora Malesiana dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam
Foto: Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat Charlie Danny Heatubun, ketua panitia memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan Flora Malesiana Symposium ke-12 dan International Nature-Based Climate Solutions Conference di Manokwari, Senin 9/2/2026 (sumber: ANTARA/Fransiskus Salu Weking)

Pantau - Sebanyak 300 peserta, termasuk 53 delegasi dari 16 negara, menghadiri Flora Malesiana Symposium ke-12 dan International Nature-Based Climate Solutions Conference yang digelar di Manokwari, Papua Barat, pada 9–14 Februari 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Papua Biology, Culture, and Climate Week 2026 yang menyoroti pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dan penanganan perubahan iklim.

Dihadiri Peserta Internasional, Perkuat Posisi Papua Barat sebagai Provinsi Keberlanjutan

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Papua Barat, Charlie Danny Heatubun, menyebutkan bahwa kehadiran peserta dari luar Papua Barat menandakan besarnya perhatian terhadap isu lingkungan di wilayah tersebut.

"Peserta dari luar Papua Barat sebanyak 145 orang, termasuk peserta internasional," ungkapnya.

Peserta internasional berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Inggris, Jerman, Kanada, India, Prancis, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, dan Papua Nugini.

"Partisipasi peserta internasional memperkuat posisi Papua Barat sebagai provinsi keberlanjutan," ia mengungkapkan.

Acara ini terselenggara atas kolaborasi antara pemerintah daerah dan mitra pembangunan seperti Econusa.

Forum Ilmiah dan Strategi Penanganan Perubahan Iklim

Flora Malesiana Symposium merupakan forum ilmiah internasional yang fokus pada penelitian, dokumentasi, dan pelestarian keanekaragaman tumbuhan di kawasan Malesia.

"Flora Malesiana Symposium dilaksanakan tiga tahun sekali, dan forum ini baru pertama diselenggarakan di Tanah Papua yang memiliki keanekaragaman tumbuhan terbanyak di dunia," jelas panitia.

Sementara itu, International Nature-Based Climate Solutions Conference membahas solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim, berdasarkan hasil riset para ilmuwan.

Konferensi ini menjadi jembatan antara kalangan akademik dan pengambil kebijakan untuk merumuskan strategi pembangunan yang berkelanjutan.

Tujuan utama konferensi ini adalah mitigasi perubahan iklim, pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan ketahanan energi, serta ketahanan pangan.

"Sekaligus mendorong agar pengambilan kebijakan tidak hanya berorientasi pada daya tahan lingkungan terhadap iklim, tapi dampak ekonomi bagi masyarakat adat," kata penyelenggara.

Kegiatan berlangsung dalam format seminar ilmiah dan diskusi dua arah, membahas isu lingkungan, keanekaragaman hayati, serta peran masyarakat adat dalam pembangunan.

Hasil diskusi akan dirangkum dalam bentuk rekomendasi yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai acuan penyusunan rencana pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi tersebut bertujuan mencegah kerusakan hutan dan lingkungan sejak dini.

"Panitia juga menyiapkan acara tambahan, yakni pemutaran film bertema lingkungan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat," ujar panitia.

Penulis :
Arian Mesa