
Pantau - Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mendesak aparat penegak hukum untuk menindak tegas kapal-kapal yang diduga membuang limbah minyak hitam secara sembarangan di perairan Kepri.
Menurut Ansar, langkah tegas tersebut penting dilakukan agar menimbulkan efek jera dan mencegah terulangnya pencemaran laut yang telah terjadi hampir setiap tahun.
"Saya tidak tahu pasti sumber minyak hitam itu dari mana, tapi diduga berasal dari pembuangan kapal-kapal yang melintasi perairan dalam maupun luar negeri," kata Ansar di Tanjungpinang, Selasa.
Ia juga mendorong pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dalam mencari solusi konkret menangani pencemaran tersebut.
Dampak Meluas di Wilayah Pesisir dan Seruan Patroli Ketat
Wilayah yang terdampak pencemaran minyak hitam antara lain Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga, dan Batam.
Ansar meminta aparat berwenang seperti TNI AL dan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai agar lebih aktif melakukan patroli di wilayah perairan Kepri.
Patroli tersebut bertujuan mencegah kapal-kapal membuang limbah minyak hitam sembarangan di laut.
"Persoalan minyak hitam ini sudah terjadi belasan tahun dan memerlukan penanganan serius lintas sektor, baik di tingkat pusat maupun daerah", ujar Ansar.
Pencemaran minyak hitam, khususnya di Bintan, berdampak negatif terhadap ekosistem ekonomi pesisir.
Ekosistem Terganggu dan Limbah Kian Menumpuk
Beberapa dampak nyata yang dirasakan akibat pencemaran ini meliputi kematian biota laut, penurunan hasil tangkapan nelayan, serta terganggunya aktivitas wisata bahari.
Bintan sebagai salah satu destinasi utama wisata bahari turut terdampak karena wisatawan enggan bermain di pantai yang tercemar.
"Sebagian turis asing mengeluhkan keberadaan minyak hitam tersebut, karena mereka tidak bisa bermain di pantai", ucap Ansar.
Dalam beberapa pekan terakhir, sekitar 1.000 karung limbah minyak hitam ditemukan terdampar di sepanjang pesisir laut dari Desa Malang Rapat hingga Pantai Trikora.
Limbah tersebut diduga sengaja dibuang oleh kapal-kapal saat musim angin utara dan terbawa arus hingga masuk ke wilayah Kepulauan Riau.
- Penulis :
- Shila Glorya







