
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengusulkan penerapan satu komando nasional dalam operasi pencarian dan pertolongan atau SAR saat keadaan darurat untuk mempercepat penyelamatan korban di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Pratikno menyampaikan usulan tersebut dalam sarasehan bertajuk "Penguatan Basarnas dalam sistem SAR Nasional" yang turut dihadiri Kepala Basarnas Mohammad Syafii.
"Tidak hanya untuk berkonsentrasi pencarian korban, seperti kecenderungannya begitu, tapi kita butuh berkonsentrasi untuk penyelamatan, ya menyelamatkan," ungkap Pratikno.
Pratikno mengusulkan sistem satu ruang, satu data, dan satu komando agar seluruh aset serta sumber daya lintas kementerian dan lembaga dapat digerakkan cepat tanpa terhambat prosedur birokrasi ketika status tanggap darurat ditetapkan.
Ia menyebut jalur koordinasi dapat langsung beralih ke mode SAR sehingga mekanisme komando dan operasional menjadi lebih sederhana dengan fokus pada percepatan penyelamatan jiwa.
Pratikno menyatakan operasi dalam skema tersebut dikendalikan langsung oleh Kepala Basarnas.
"Dalam kondisi darurat, ada golden hour-nya 72 jam harapan korban selamat, jadi ruang waktu sangat terbatas. Operasi penyelamatan tidak cukup mengandalkan keberanian individu, melainkan membutuhkan sistem komando yang solid, infrastruktur memadai, serta dukungan teknologi dan sumber daya manusia," kata Pratikno.
Pratikno menyebut kebutuhan penguatan sistem SAR makin mendesak karena wilayah tanggung jawab Basarnas mencapai sekitar 5 juta kilometer persegi sementara personel SAR dinilai sangat terbatas.
Ia menyampaikan Basarnas memiliki 5.462 personel yang tersebar di 45 kantor SAR, namun jumlah itu disebut masih jauh dari kebutuhan layanan bagi 280 juta jiwa di lebih dari 5.000 pulau di seluruh Indonesia.
Pratikno menilai tuntutan respons semakin berat karena potensi risiko meningkat akibat perubahan iklim dan intensitas bencana, serta meningkatnya sorotan publik terhadap kecepatan dan efektivitas penanganan darurat di era media sosial.
"Apalagi dengan potensi risiko yang meningkat akibat perubahan iklim dan intensitas bencana. Sekarang tuntutan publik terhadap kecepatan dan efektivitas penanganan darurat, terutama di era media sosial yang membuat setiap respons menjadi sorotan luas," ujar Pratikno.
Pratikno menilai kesenjangan antara risiko dan kapasitas perlu dipersempit melalui integrasi komando serta optimalisasi pemanfaatan aset TNI, Polri, dan kementerian serta lembaga terkait sebagai Potensi SAR dalam sebuah operasi.
Pratikno juga menekankan pentingnya penguatan internal Basarnas melalui penambahan sarana dan prasarana serta mendorong pembahasan lanjutan agar sistem penyelamatan nasional semakin responsif dan efektif.
- Penulis :
- Aditya Yohan







