
Pantau - Inovasi pembuatan pupuk organik cair Beko hasil fermentasi keong mas dan urine domba yang digagas pemuda Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mampu menekan aktivitas penambangan emas tanpa izin di wilayah tersebut.
Wahyudin yang akrab disapa Kang Wahyu menginisiasi pengolahan lahan terlantar seluas 35 hektare bersama Kelompok Taruna Muda sebagai alternatif ekonomi bagi warga.
Ia mengatakan, "Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,".
Melalui kolaborasi dengan PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor dalam program inovasi sosial Garitan Kalongliud sejak 2022, Wahyu memimpin pengelolaan lahan pertanian yang sebelumnya terbengkalai.
Berbagai tantangan seperti mahalnya pupuk kimia, serangan hama keong mas, dan keterbatasan air mendorong lahirnya inovasi pupuk fermentasi serta pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik.
Inovasi tersebut mampu memangkas biaya pupuk hingga 50 persen dan didukung sistem irigasi tetes sederhana yang menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Kelompok tani juga memotong rantai distribusi dengan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati tanpa melalui tengkulak sehingga pendapatan meningkat 65 persen.
Sepanjang 2024 hingga 2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp246.258.000.
Wahyu mengatakan, "Yang paling membanggakan, delapan mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif,".
Program tersebut mencatat nilai Social Return on Investment sebesar 4,34 dan berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen.
Atas dedikasinya, Wahyu menerima penghargaan Environmental and Social Innovation Award 2025 sebagai Local Hero Inspiratif dan melalui Rumah Belajar Garitan sebanyak 696 orang telah mendapatkan pembelajaran inovasi pertanian.
Ia menambahkan, "Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan,".
- Penulis :
- Aditya Yohan







