
Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan akan mengalihkan anggaran ke daerah lain apabila pemerintah daerah tidak serius menjalankan program cetak sawah sebagai bagian dari penguatan produksi dan swasembada pangan nasional dalam Rapat Koordinasi Nasional Pertanian di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026.
Penegasan tersebut disampaikan di hadapan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, jajaran Eselon I dan II, serta Kepala Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia.
Mentan mengingatkan bahwa daerah yang tidak menunjukkan keseriusan dalam menjalankan program strategis untuk menjaga momentum swasembada beras akan dievaluasi dan anggarannya dapat dialihkan ke daerah lain yang lebih siap dan progresif.
"Yang tidak serius, kabupaten yang tidak serius, tolong nol kan anggarannya, Menteri (Pertanian) yang tanggung jawab. Sampaikan Menteri (Pertanian) yang tanggung jawab," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa anggaran pertanian yang mencapai puluhan triliun rupiah merupakan amanah rakyat yang wajib diwujudkan menjadi produksi nyata dan hasil konkret di lapangan.
Bantuan dan dukungan anggaran akan diprioritaskan kepada daerah yang menunjukkan progres baik, sedangkan daerah dengan capaian rendah akan ditahan sementara hingga ada perbaikan kinerja.
"Tolong seluruh dirjen (direktur jenderal), daerah yang capaiannya rendah, alihkan ke yang rajin. Jadi kabupaten dan provinsi yang tidak serius, anggarannya tarik, pindahkan ke provinsi lain, kabupaten lain," ujarnya menegaskan.
Ia menyebut langkah tegas tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus perlindungan kepada daerah agar tidak terbebani target yang tidak mampu direalisasikan.
"Bentuk cinta saya, kalau Anda tidak sanggup, saya pindahkan anggarannya. Dari pada nanti tidak berjalan optimal di kemudian hari," katanya.
Selain menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional.
Target Cetak Sawah 250 Ribu Hektare pada 2026
Mentan menegaskan program cetak sawah tidak boleh kendur dan menginstruksikan seluruh kepala dinas pertanian provinsi serta kabupaten/kota untuk memacu percepatan cetak sawah dan optimalisasi lahan.
"Momentum swasembada pangan yang telah diraih tidak boleh kendur dan harus dijaga secara berkelanjutan," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa cetak sawah merupakan fondasi keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Pada 2025, realisasi cetak sawah mencapai sekitar 200 ribu hektare.
Pada 2026, program cetak sawah ditargetkan meningkat hingga 250 ribu hektare.
"Ini yang membuat sistem nanti. Ini yang membuat berkelanjutan swasembada kita," tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi cetak sawah dan optimalisasi lahan diyakini mampu menjaga keberlanjutan swasembada pangan dalam beberapa tahun ke depan.
Fokus Swasembada Kedelai dan Bawang Putih
Dalam rapat tersebut, Mentan melakukan evaluasi progres cetak sawah per provinsi dan meminta seluruh daerah melaporkan capaian signifikan hingga akhir Maret 2026.
"Indonesia terhormat karena mencapai swasembada dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ke depan kita akselerasi," katanya.
Selain komoditas padi, pemerintah juga memfokuskan percepatan swasembada kedelai dan bawang putih sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah turut mendorong penguatan hilirisasi komoditas perkebunan seperti kakao, kopi, kelapa, lada, dan komoditas lainnya untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing.
"Dengan langkah percepatan yang terukur, disiplin realisasi anggaran, serta sinergi pusat dan daerah, Kementerian Pertanian optimistis momentum swasembada pangan dapat terus diperkuat," ujarnya.
Pemerintah menargetkan peningkatan produksi pertanian yang tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan membangun sistem kokoh dan berkelanjutan demi ketahanan pangan nasional serta kesejahteraan petani Indonesia.
- Penulis :
- Shila Glorya







