Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

TNI AL Dihadapkan Dua Pendekatan Strategis untuk Wujudkan Konsep Blue Water Navy

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

TNI AL Dihadapkan Dua Pendekatan Strategis untuk Wujudkan Konsep Blue Water Navy
Foto: Duta Besar RI untuk Nigeria Bambang Suharto bersama komandan KRI Prabu Siliwangi-321 Kolonel Laut Kurniawan Koes Atmadja dan perwakilan AL Nigeria saat menyambut singgahnya kapal TNI AL tersebut di Lagos, Nigeria, Senin 23/2/2026

Pantau - TNI Angkatan Laut dihadapkan pada dua pilihan pendekatan strategis jika ingin menerapkan sistem pertahanan blue water navy guna memperkuat proyeksi kekuatan maritim Indonesia.

Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Laksamana Pertama Salim menyatakan hal itu dalam diskusi daring bertajuk Indonesia's Blue Water Transition: Why High-Value ASW/AAW Assets Will Decide Its Credibility, Rabu 25 Februari 2026.

Blue water navy merupakan sistem pertahanan angkatan laut yang memiliki kemampuan operasional di samudra terbuka dan perairan dalam secara global sehingga pasukan mampu memproyeksikan kekuatan jauh dari negara asalnya.

Salim menjelaskan terdapat dua pendekatan yang bisa ditempuh yakni pendekatan struktural dan transformasional.

"Pendekatan dua ini dapat disesuaikan mana yang sesuai dengan kebutuhan TNI AL." kata Salim.

Pendekatan Struktural Perbanyak Armada

Pada pendekatan struktural, TNI AL perlu memperbanyak jumlah kapal dan armada guna memperkuat penjagaan wilayah laut Indonesia.

Menurut Salim, dengan jumlah kapal yang lebih banyak, patroli dapat dilakukan secara bersamaan di berbagai titik strategis perairan nasional.

Keberadaan armada yang besar dinilai mempermudah TNI AL hadir di wilayah tertentu untuk menjaga batas maritim dan merespons potensi ancaman.

"Lalu fungsi dari memperbanyak jumlah armada Indonesia diharapkan mampu memperluas wilayah operasional dan merespon terhadap ancaman di lautan." jelas Salim.

Pendekatan Transformasional Andalkan Teknologi Canggih

Berbeda dengan pendekatan struktural, transformasional tidak menitikberatkan pada kuantitas kapal melainkan pada peningkatan kualitas aset pertahanan laut.

"Pendekatan ini mengedepankan kualitas dari kuantitas. Ini berarti lebih sedikit aset." kata dia.

Salim menegaskan meski jumlah aset lebih sedikit, kapal yang dimiliki harus dilengkapi teknologi sensorik canggih agar pengawasan laut lebih maksimal dan efisien.

"Harus dilengkapi dengan teknologi Resilient C6ISR Command, Control, Communications, Computers, Combat Systems, Intelligence, Surveillance, dan Reconnaissance." kata Salim.

Pendekatan Transformasional Andalkan Teknologi Canggih

Ia menambahkan dua pendekatan tersebut akan menentukan pola investasi pertahanan laut TNI AL ke depan.

Salim meyakini dengan menjalankan salah satu pendekatan itu, TNI AL akan lebih mudah mengadopsi sistem pertahanan blue water navy secara kredibel.

Penulis :
Shila Glorya