
Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat kerangka nilai ekonomi karbon nasional guna mendukung pengembangan pasar karbon domestik yang kredibel, transparan, dan akuntabel.
Penguatan tersebut dinilai menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem pasar karbon domestik yang mampu memberikan sinyal harga karbon yang jelas bagi pelaku usaha serta memperkuat integritas kebijakan iklim nasional.
Penilaian itu disampaikan Penjabat sementara Ketua dan Wakil Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi dalam acara The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Jakarta, Kamis.
Friderica yang akrab disapa Kiki menegaskan pentingnya instrumen ekonomi karbon dalam membentuk ekosistem pasar karbon yang berkualitas.
“Dengan menegaskan kembali berbagai instrumen ekonomi karbon, pemerintah mendorong terbentuknya ekosistem pasar karbon domestik yang kredibel, transparan, dan akuntabel,” ungkapnya.
Ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan visi Indonesia untuk mencapai target net zero emission pada 2060.
Peran TKBI dan Bursa Karbon Indonesia
OJK terus membangun ekosistem kebijakan yang lebih sehat dan komprehensif melalui penyempurnaan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
TKBI berfungsi menyediakan klasifikasi yang jelas bagi kegiatan hijau dan transisi dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan.
OJK juga membentuk Bursa Karbon Indonesia untuk mendukung mekanisme penemuan harga yang transparan dan menyediakan instrumen berbasis pasar dalam pengelolaan nilai ekonomi karbon.
Instrumen tersebut turut mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca secara terukur dan akuntabel.
“Secara paralel kami mengembangkan ekosistem kebijakan yang lebih komprehensif melalui peningkatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, pembentukan Bursa Karbon Indonesia, serta implementasi kerangka manajemen risiko iklim dan analisis skenario untuk industri perbankan,” katanya.
Dukungan Industri Perbankan
Pada kesempatan yang sama, OJK mengapresiasi komitmen industri perbankan dalam memperkuat praktik keuangan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan instrumen pembiayaan hijau dan penerapan manajemen risiko iklim sebagai bagian dari praktik keuangan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, berbagai instrumen tersebut menjadi fondasi kebijakan terintegrasi untuk mendukung agenda transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa







