Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

MBG dan Narasi Pemotongan Anggaran Pendidikan Perlu Dilihat Secara Rasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

MBG dan Narasi Pemotongan Anggaran Pendidikan Perlu Dilihat Secara Rasional
Foto: (Sumber : Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjawab pertanyaan wartawan di ruang media, di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (27/2/2026). Teddy Indra Wijaya menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan menggunakan anggaran pendidikan nasional serta tidak akan mengurangi program pendidikan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz..)

Pantau - Narasi bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memotong anggaran pendidikan dinilai bersifat emosional dan perlu ditelaah secara rasional melalui dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam telaah yang ditulis Dr Prabu Revolusi, disebutkan data APBN menunjukkan anggaran pendidikan meningkat dari Rp665 triliun pada 2024 menjadi Rp724,3 triliun pada 2025 dan direncanakan mencapai Rp757,8 triliun pada 2026.

Selama periode 2024–2026, anggaran pendidikan tumbuh rata-rata sekitar 6,8 persen per tahun.

Penulis menegaskan jika MBG benar memotong anggaran pendidikan, maka total anggaran pendidikan seharusnya menurun, namun yang terjadi justru peningkatan.

Anggaran kesejahteraan guru meningkat dari Rp175,7 triliun pada 2024 menjadi Rp211,4 triliun pada 2026 dengan kenaikan gaji ASN, tunjangan ASN, dan tunjangan non-ASN yang tumbuh hampir 10 persen per tahun.

Selain itu, terdapat pembangunan ratusan Sekolah Rakyat serta distribusi ribuan smart board ke sekolah-sekolah di pelosok.

Dalam struktur APBN 2026 sebesar Rp757,8 triliun untuk pendidikan, porsi terbesar tetap dialokasikan pada gaji dan tenaga pendidik sekitar Rp274,7 triliun atau 36,2 persen.

Anggaran MBG berada di kisaran Rp223,6 triliun atau 29,5 persen dari total anggaran pendidikan.

Bantuan pendidikan seperti BOS, LPDP, dan dana abadi tetap berada di angka Rp161,6 triliun atau 21,3 persen.

Penulis menyimpulkan secara fiskal tidak terdapat pemangkasan pada fungsi inti pendidikan.

MBG dikategorikan sebagai human capital intervention policy dalam teori kebijakan publik.

Penulis merujuk teori Human Capital dari Gary Becker yang menegaskan investasi pada kesehatan dan pendidikan berdampak jangka panjang terhadap produktivitas ekonomi.

Gizi dinilai sebagai fondasi kapasitas kognitif dan bukan sekadar isu kesejahteraan.

Penempatan MBG dalam pos pendidikan disebut konsisten dengan pendekatan kebijakan berbasis outcome yang dapat diukur melalui indikator seperti kehadiran siswa, konsentrasi belajar, penurunan stunting, serta kualitas hasil belajar.

Penulis :
Aditya Yohan