Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

MPR Tegaskan Festival Cap Go Meh di Singkawang Perkaya Identitas Nasional dan Perkuat Toleransi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

MPR Tegaskan Festival Cap Go Meh di Singkawang Perkaya Identitas Nasional dan Perkuat Toleransi
Foto: (Sumber : Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto bersama Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie jajaran pejabat menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Selasa (3/3/2026). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi))

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menyatakan Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, merupakan budaya lokal yang memperkaya identitas nasional dan menjadi wujud narasi toleransi.

Bambang menyampaikan “Mari kita kirimkan pesan kepada dunia, bahwa Indonesia berdiri teguh sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, toleransi dan persaudaraan,” saat membacakan pidato Ketua MPR RI dalam Festival Cap Go Meh 2026 di depan Kantor Wali Kota Singkawang.

Budaya Lokal Perkuat Narasi Kebangsaan

Ia menegaskan narasi kebangsaan bukan keseragaman, melainkan keberagaman, dan perbedaan harus menjadi energi untuk bersatu.

Sebagai lembaga negara yang bertugas membumikan nilai Pancasila dan UUD 1945, MPR RI berkomitmen menjaga harmoni kebangsaan.

MPR RI disebut hadir sebagai rumah besar dialog umat untuk merawat persatuan, menguatkan toleransi, dan memastikan setiap warga memiliki kedudukan setara di hadapan konstitusi tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Sejarah Peran Masyarakat Tionghoa di Singkawang

Bambang yang akrab disapa Bambang Pacul menyatakan sejarah mencatat masyarakat Tionghoa memiliki peran penting dalam perdagangan, pendidikan, kesehatan, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia mengatakan “Kontribusi masyarakat Tionghoa tidak terpisahkan dari narasi kebangsaan kita,”.

Ia juga menjelaskan Kota Singkawang dikenal sebagai kota seribu kelenteng karena menjadi tujuan merantau masyarakat Tionghoa sejak abad ke-18.

Ia menyampaikan “Bersama masyarakat Melayu, dan Dayak, melahirkan harmoni multi kultural yang kita saksikan hingga hari ini,”.

Penulis :
Ahmad Yusuf