
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan sejumlah perairan di Nusa Tenggara Barat masuk kategori zona merah akibat dampak dua bibit siklon tropis yang terpantau berada di Samudera Hindia.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Kadek Katriavi mengatakan kondisi tersebut memicu peningkatan tinggi gelombang laut hingga enam meter.
"Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir agar meningkatkan kewaspadaan," ujarnya di Mataram, Kamis.
BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Centre Jakarta memprakirakan dua sistem tekanan rendah berpotensi besar menjadi siklon tropis, yakni bibit siklon tropis 90S di perairan selatan Jawa Timur dan bibit siklon tropis 93S di barat laut Australia.
Gelombang Ekstrem di Selatan NTB
Kadek menjelaskan dampak tidak langsung dari aktivitas dua bibit siklon tersebut meningkatkan kecepatan angin dan tinggi gelombang di sejumlah perairan NTB, terutama wilayah selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Berdasarkan peta prakiraan gelombang 5-6 Maret 2026, tinggi gelombang 4 hingga 6 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Samudera Hindia selatan NTB.
Perairan Samudera Hindia di selatan Lombok Barat masuk kategori ekstrem karena berpotensi mengalami gelombang lebih dari enam meter.
"Gelombang kategori tinggi 2,5 sampai 4 meter diprakirakan terjadi di perairan selatan Sumbawa. Sedangkan Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, serta Selat Sape bagian utara dan selatan berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter," papar Kadek.
BMKG Terbitkan Peringatan Dini
BMKG menerbitkan peringatan dini agar masyarakat dan pelaku aktivitas pelayaran mewaspadai gelombang tinggi, khususnya di jalur penyeberangan strategis antar pulau seperti Selat Lombok, Selat Alas, dan Selat Sape.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







