
Pantau - Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyebut Kabupaten Cirebon menjadi daerah percontohan dalam pengembangan tanaman sorgum untuk mendukung diversifikasi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Jawa Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Erwan Setiawan saat melakukan kunjungan kerja di Cirebon pada Kamis.
Ia menjelaskan pengembangan komoditas sorgum di Cirebon diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain di Jawa Barat dalam memperluas budidaya tanaman tersebut.
Menurutnya, tanaman sorgum memiliki potensi besar karena termasuk serealia yang kaya nutrisi seperti protein, serat, antioksidan, serta bebas gluten.
Sorgum juga dinilai dapat menjadi alternatif sumber pangan pengganti beras dan gandum.
“Sorgum ini tanaman yang multifungsi. Bijinya bisa menjadi pangan, batangnya dapat dimanfaatkan untuk biomassa atau bioetanol, sedangkan daunnya bisa menjadi pakan ternak,” ungkap Erwan.
Potensi Hasil Panen dan Pemanfaatan Sorgum
Pada kegiatan panen yang dilaksanakan di Cirebon, lahan sorgum yang dipanen memiliki luas sekitar 1,5 hektare.
Lahan tersebut telah melalui proses sertifikasi benih sebelum dilakukan panen.
Dari lahan seluas 1,5 hektare tersebut diperkirakan dapat dihasilkan sekitar 1,5 ton benih.
Benih yang dihasilkan termasuk dalam kelas benih dasar.
Benih dasar tersebut selanjutnya dapat dikembangkan menjadi produksi benih pokok yang mampu mencakup lahan sekitar 150 hektare.
Selain menghasilkan benih, lahan tersebut juga berpotensi menghasilkan batang sorgum sekitar 10 hingga 15 ton.
Batang sorgum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Batang juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan gula.
Selain itu batang sorgum dapat dimanfaatkan untuk produksi bioetanol serta energi biomassa.
Dukungan CSR dan Rencana Pengembangan di Sumedang
Erwan menyampaikan bahwa pengembangan tanaman sorgum di Cirebon terlaksana berkat dukungan berbagai pihak.
Salah satu dukungan datang dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) PT Dirgantara Indonesia.
Selain kegiatan di Cirebon, terdapat rencana kerja sama pemanfaatan lahan di Kabupaten Sumedang.
Kerja sama tersebut akan melibatkan PT Dirgantara Indonesia dan pemilik lahan setempat.
Lahan yang direncanakan untuk pengembangan tanaman sorgum di Sumedang diperkirakan seluas sekitar 30 hingga 40 hektare.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen menciptakan ekosistem pertanian yang inovatif, produktif, dan mandiri.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas petani serta pelaku UMKM di sektor pertanian termasuk pada komoditas sorgum.
Erwan menjelaskan bahwa sorgum memiliki beberapa keunggulan dalam budidaya.
Tanaman ini tahan terhadap kondisi kekeringan.
Sorgum juga membutuhkan air yang relatif lebih sedikit dibandingkan tanaman pangan lain.
Tanaman tersebut mampu tumbuh di lahan marginal sehingga lebih efisien untuk dibudidayakan.
“Tanaman ini dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun dan memiliki nilai ekonomi karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan,” ungkapnya.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan menyatakan pihaknya ingin mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengolahan sorgum.
Pemanfaatan teknologi tersebut bertujuan agar komoditas sorgum memiliki nilai tambah bagi petani.
PT Dirgantara Indonesia juga berkomitmen berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Kontribusi tersebut terutama dalam meningkatkan kualitas petani melalui pemanfaatan teknologi dalam pengolahan hasil pertanian.
“Kami juga mencoba mengeksplorasi teknologi pengolahan pangan, termasuk melalui mitra kami dari China, untuk mendukung pengembangan program ini di Jabar,” ungkap Gita Amperiawan.
- Penulis :
- Shila Glorya







