Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

BGN Ingatkan Pengelola SPPG Tidak Reaktif Tanggapi Isu Media Sosial soal Program Makan Bergizi Gratis

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BGN Ingatkan Pengelola SPPG Tidak Reaktif Tanggapi Isu Media Sosial soal Program Makan Bergizi Gratis
Foto: (Sumber: Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang dalam workshop bertajuk Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan kepada para pengawas SPPG di Jakarta pada Sabtu (7/3/2026). ANTARA/HO-BGN.)

Pantau - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional bidang komunikasi dan investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi agar tidak langsung reaktif menanggapi narasi liar di media sosial terkait Program Makan Bergizi Gratis.

Ia menyampaikan sejumlah isu yang sempat ramai di media sosial seperti dugaan temuan benda asing dalam makanan maupun isu keracunan massal tidak sepenuhnya sesuai dengan narasi yang beredar setelah dilakukan penelusuran.

"Sejumlah kejadian memang terjadi di lapangan, namun tidak jarang narasinya berkembang secara berlebihan bahkan menjadi hoaks. Oleh karena itu, seluruh pengelola SPPG lebih baik fokus memperhatikan secara ketat proses pengolahan makanan agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga", ungkapnya.

BGN Tekankan Pentingnya Komunikasi Publik

BGN juga berharap para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia yang bertugas sebagai pengawas di SPPG mampu menjalankan operasional program dengan baik sekaligus memiliki kemampuan komunikasi untuk menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menangkal misinformasi yang dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.

Nanik mencontohkan kasus menu MBG yang sempat viral di media sosial karena disebut hanya berisi mi dan satu buah pisang.

Namun setelah dikonfirmasi, menu tersebut ternyata juga dilengkapi dengan ayam.

Klarifikasi Berbagai Isu di Media Sosial

Ia juga menyinggung video yang beredar mengenai penolakan Program MBG di MTs 4 dan MAN 8 di Cilincing, Jakarta Utara.

Setelah dilakukan pengecekan, sekolah dengan nama tersebut ternyata tidak ditemukan di wilayah tersebut.

Kasus lain juga terjadi di Purworejo, Jawa Tengah, yang awalnya dikaitkan dengan Program MBG.

Namun setelah ditelusuri, kejadian tersebut ternyata berkaitan dengan konsumsi makanan dari acara hajatan masyarakat.

Dari berbagai kejadian tersebut, Nanik menilai pengelolaan makanan dalam jumlah besar memiliki tantangan tersendiri terutama terkait tingkat kematangan dan standar kebersihan.

"Ini masaknya sudah pakai berbagai alat-alat modern tapi masih ada keracunan, ya kan? Sebetulnya, bukan keracunan, kalau menurut saya adalah lebih pada sistem tata kelola", ujarnya.

BGN juga mengingatkan pentingnya standar sanitasi makanan dalam pelaksanaan program.

Salah satunya melalui penggunaan pemanas air dalam proses pencucian ompreng di dapur MBG untuk menjaga higienitas peralatan makan.

Penulis :
Gerry Eka