
Pantau - Artikel berjudul Media sosial jadi referensi utama pelaku swamedikasi yang ditulis oleh Dr Sardi Duryatmo, MSi., Ahsani Taqwim A, MIKom., dan Diana mengungkap bahwa media sosial menjadi sumber rujukan utama masyarakat dalam melakukan swamedikasi atau pengobatan mandiri di Indonesia.
Artikel tersebut diterbitkan pada Selasa, 10 Maret 2026 dan membahas fenomena meningkatnya praktik swamedikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat sebanyak 78,95 persen penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri sebelum berkonsultasi dengan tenaga medis.
Swamedikasi merupakan upaya pengobatan yang dilakukan seseorang untuk mengatasi keluhan kesehatan tanpa berkonsultasi langsung dengan tenaga medis profesional.
Ketika mengalami gejala penyakit seseorang mengambil keputusan sendiri mengenai cara merawat dan mengobati kondisi kesehatannya.
Pengobatan mandiri tersebut dapat dilakukan menggunakan obat yang tersedia di rumah maupun memanfaatkan bahan alami seperti tumbuhan obat.
Fenomena swamedikasi juga tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Provinsi Kalimantan Selatan mencatat tingkat swamedikasi tertinggi dengan persentase mencapai 89 persen.
Di Provinsi Jawa Barat tingkat swamedikasi tercatat sebesar 80,22 persen.
Sementara itu di Jakarta tingkat swamedikasi mencapai 76,02 persen.
Penelitian dan Metode
Untuk memahami motif serta sumber referensi masyarakat dalam melakukan swamedikasi, tim peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan melakukan penelitian ilmiah.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dan dilaksanakan pada periode tahun 2025 hingga tahun 2026.
Riset ini didanai melalui hibah internal Universitas Pakuan.
Penelitian melibatkan sebanyak 66 responden yang merupakan warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Seluruh responden berusia minimal 18 tahun dan memiliki pengalaman melakukan swamedikasi.
Para informan diwawancarai secara langsung untuk menggali pengalaman serta pertimbangan mereka dalam melakukan pengobatan mandiri.
Peneliti juga menyelenggarakan diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion pada 22 Januari 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan pelaku swamedikasi, herbalis, serta petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.
Sebagian besar responden pernah mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti asam urat, batu ginjal, diabetes melitus, kanker, kolesterol, dan vertigo.
Untuk mengatasi penyakit tersebut mereka memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan obat sebagai bagian dari pengobatan kuratif.
- Dari sisi demografi sebanyak 64 persen responden merupakan perempuan.
- Sementara itu sebanyak 36 persen responden merupakan laki-laki.
- Berdasarkan kelompok usia sebanyak 33 persen responden berusia 20 sampai 39 tahun.
- Sebanyak 50 persen responden berusia 40 sampai 59 tahun.
- Sebanyak 17 persen responden berusia 60 sampai 78 tahun.
Media Sosial Jadi Referensi Utama
Penelitian menemukan bahwa kelompok referensi memiliki peran penting dalam menentukan pilihan pengobatan masyarakat.
Kelompok referensi merupakan pihak yang memberikan standar, nilai, dan rujukan informasi bagi seseorang dalam mengambil keputusan.
Kelompok referensi tersebut sangat beragam mulai dari keluarga hingga media sosial.
Hasil penelitian menunjukkan media sosial dan internet menjadi kelompok referensi paling dominan dengan persentase mencapai 28,78 persen.
Ketika menghadapi gangguan kesehatan banyak pelaku swamedikasi mencari informasi melalui berbagai platform digital.
Informasi tersebut digunakan untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dipercaya dapat mengatasi keluhan kesehatan mereka.
Meski mengandalkan media sosial para pelaku swamedikasi tidak menerima semua informasi tanpa pertimbangan.
Mereka cenderung memilih sumber informasi yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi.
Konten yang disampaikan oleh individu yang berprofesi sebagai dokter dianggap lebih dapat dipercaya.
Kehadiran figur profesional tersebut meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan di media sosial.
Penelitian juga menemukan adanya perbedaan penggunaan media sosial berdasarkan kelompok usia.
Kelompok usia 20 sampai 39 tahun menjadi pengguna media sosial terbanyak sebagai sumber referensi kesehatan.
Sekitar 50 persen responden dalam kelompok usia tersebut menjadikan media sosial sebagai rujukan utama.
Kelompok usia tersebut merupakan generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital.
Bagi mereka internet menjadi ruang utama untuk memperoleh berbagai informasi kesehatan.
Pada kelompok usia yang lebih tua penggunaan media sosial sebagai referensi cenderung lebih rendah.
Pada kelompok usia 60 sampai 78 tahun hanya sekitar 18 persen responden yang menggunakan media sosial sebagai sumber rujukan swamedikasi.
Selain media sosial keluarga juga memiliki peran penting sebagai kelompok referensi.
Orang tua termasuk mertua menjadi sumber rujukan bagi sekitar 25,75 persen responden.
Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat sering diwariskan secara turun-temurun di dalam keluarga.
- Penulis :
- Aditya Yohan







