Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Quraish Shihab Ingatkan Perdamaian Tidak Boleh Mengorbankan Keadilan dalam Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Quraish Shihab Ingatkan Perdamaian Tidak Boleh Mengorbankan Keadilan dalam Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara
Foto: (Sumber : Ulama Quraish Shihab berceramah pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/3/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.)

Pantau - Cendekiawan Muslim Prof. Muhammad Quraish Shihab mengingatkan bahwa upaya mewujudkan perdamaian tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keadilan.

Pesan tersebut disampaikan dalam ceramahnya pada peringatan Nuzulul Quran yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa malam.

Dalam acara tersebut, Prof. Quraish menyampaikan ceramah di hadapan Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara.

Ceramah tersebut membahas berbagai tema penting, mulai dari perdamaian, keadilan, persatuan, hingga kepemimpinan.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian. Kalau kita berkata perdamaian, perlu diingat bahwa kita ingin damai, tetapi kita tidak ingin mengorbankan keadilan. Kita ingin damai, tetapi keadilan pun hendaknya kita tegakkan, dan ketika menegakkan keadilan, Al Quran berpesan: Jangan sampai kebencianmu kepada satu kaum menjadikan engkau tidak berlaku adil," ungkapnya.

Penjelasan Konsep Keadilan Menurut Filosof dan Ulama

Dalam ceramah tersebut, Prof. Quraish menjelaskan berbagai definisi mengenai keadilan dari berbagai sudut pandang.

Penjelasan tersebut dimulai dari definisi umum hingga pandangan para filosof mengenai makna keadilan.

Ia juga memaparkan pandangan mengenai keadilan menurut sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq.

"Banyak definisi keadilan, (salah satunya) menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, memberikan pemilik hak-haknya dengan cara yang terbaik dan tercepat, dan ada lagi satu ketika Plato berdiskusi dengan filosof-filosof pada masanya, ada yang memberi definisi keadilan, katanya: Keadilan adalah keberpihakan kepada yang kuat. Plato tidak setuju, tetapi sebagian ulama Islam setuju," jelasnya.

Pesan untuk Presiden Prabowo

Prof. Quraish kemudian mengaitkan pandangan tersebut dengan pernyataan Abu Bakar ash-Shiddiq ketika dilantik sebagai pemimpin umat Islam.

Ia menilai pesan tersebut menggambarkan bagaimana seorang pemimpin harus menegakkan keadilan bagi seluruh masyarakat.

"Hanya, bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, persetujuannya (para ulama, red.) dikaitkan dengan sambutan Sayyidina Abu Bakar (ash-Shiddiq) waktu pelantikan Beliau sebagai pemimpin umat Islam. Sambutannya berkata demikian, singkatnya: Saya bukan orang yang terbaik di antara kamu. Kalau saya benar, bantu saya. Kalau saya keliru, luruskan saya. Baru dia katakan: Yang kuat di antara kamu, lemah di sisiku sampai aku mencabut hak orang lain yang diambilnya. Yang lemah, kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya kepadanya yang diambil oleh yang kamu namai kuat," katanya.

Setelah menjelaskan konsep tersebut, Prof. Quraish juga menyampaikan pesan khusus kepada Presiden Prabowo terkait pentingnya menegakkan keadilan dalam kepemimpinan.

"Bapak Presiden, kalau ini kita terapkan, keadilan dan kedamaian akan tercapai. Niat Bapak untuk memberantas korupsi dapat dilakukan dengan adil melalui pemahaman Sayyidina Abu Bakar," ujarnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf