
Pantau - Ratusan jemaah memadati Masjid Baiturrahman di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, untuk mengikuti kegiatan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan dengan mengisi malam melalui salat, tadarus Al-Qur’an, dan perenungan diri demi meraih keberkahan Lailatul Qadar.
Registrasi Peserta Iktikaf
Para jemaah yang datang dari berbagai latar belakang seperti pegawai, pelajar, hingga masyarakat sekitar terlebih dahulu melakukan registrasi di serambi Masjid Baiturrahman Kompleks Parlemen.
Salah satu panitia bernama Raihan memandu peserta untuk mencatatkan nama dalam daftar registrasi.
"Silakan ditulis tanda tangan di sini, nanti dapat pin dan kuponnya ya," kata Raihan kepada para peserta.
Peserta yang telah terdaftar kemudian menerima pin kecil yang dipasangkan di bagian dada sebagai tanda peserta iktikaf.
Selain pin, panitia juga memberikan kupon yang nantinya dapat ditukarkan dengan cinderamata.
Raihan mengingatkan para peserta dengan mengatakan, "Jangan sampai hilang kuponnya ya."
Menjelang waktu Magrib jumlah jemaah yang datang terus bertambah.
Sebagian jemaah membawa tas kecil berisi pakaian ganti dan mushaf Al-Qur’an.
Sebagian lainnya hanya membawa sajadah dan botol minum.
Hingga proses registrasi ditutup, tercatat sekitar 120 jemaah mengikuti kegiatan iktikaf tersebut.
Rangkaian Ibadah Sepanjang Malam
Setelah salat Isya berjemaah, para jemaah kembali merapatkan saf di ruang utama masjid untuk melaksanakan salat tarawih.
Salat tarawih malam itu dipimpin imam dengan jumlah 23 rakaat.
Rakaat demi rakaat berlangsung dengan tempo cukup cepat sehingga jemaah harus sigap mengikuti gerakan imam.
Di antara saf terlihat seorang jemaah lanjut usia berdiri perlahan menyesuaikan posisi kaki di atas karpet biru masjid.
Ritme salat yang cepat membuatnya sesekali tertinggal beberapa gerakan.
Meski demikian ia tetap berusaha mengikuti gerakan imam hingga salat selesai.
Salah satu peserta bernama Fajar mengaku terkejut dengan jumlah rakaat tarawih yang dilaksanakan.
"Ini pengalaman baru bagi saya, karena biasanya saya salat tarawih dengan jumlah 11 rakaat," ujar Fajar.
Ia menambahkan, "Di sini 23 rakaat dan temponya juga terasa cukup cepat dibandingkan yang biasa saya ikuti."
Meski begitu ia tetap menikmati suasana salat berjemaah di masjid tersebut.
Setelah salat tarawih selesai para jemaah tidak langsung meninggalkan masjid dan diarahkan mengikuti kegiatan tadarus Al-Qur’an bersama.
Para peserta duduk membentuk susunan menyerupai huruf U di ruang utama masjid.
Di bagian tengah lingkaran, Ustaz Hanafi membuka mushaf Al-Qur’an sambil memandu bacaan para peserta.
Setiap peserta membaca Al-Qur’an secara bergiliran sementara peserta lainnya menyimak dengan saksama.
Jika terdapat bacaan yang kurang tepat, Ustaz Hanafi langsung memberikan koreksi.
"Hurufnya ditekan sedikit, coba ulangi lagi," kata Ustaz Hanafi kepada salah satu peserta.
Lantunan ayat Al-Qur’an bergantian terdengar memenuhi ruang masjid dengan suasana tenang namun penuh semangat belajar.
Salah satu peserta bernama Aishah, pelajar SMK asal Tangerang, mengaku baru pertama kali mengikuti iktikaf di Masjid Baiturrahman.
"Iktikaf di sini pertama kali buat saya," kata Aishah.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tadarus menjadi pengalaman berharga baginya.
"Di sini diajarkan cara membaca Al-Qur’an yang benar, jadi saya jadi tertarik belajar membaca Al-Qur’an yang baik dan benar," ujarnya.
Kegiatan tadarus berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 sebelum para jemaah beristirahat sejenak.
Ibadah Dini Hari hingga Sahur
Menjelang tengah malam suasana masjid menjadi lebih tenang.
Sebagian peserta membentangkan sajadah untuk beristirahat, ada yang bersandar di tiang masjid, dan ada pula yang tetap membaca Al-Qur’an dengan suara pelan.
Lampu masjid yang redup membuat suasana semakin hening.
Di luar masjid kawasan Kompleks Parlemen mulai sepi sementara di dalam masjid suasana ibadah tetap berlangsung.
Sekitar pukul 02.00 dini hari panitia mulai membangunkan para peserta untuk melanjutkan ibadah malam.
"Bangun, kita lanjut salat malam," ujar salah satu panitia.
Para jemaah kemudian bangkit perlahan dari tempat istirahat mereka.
Rangkaian ibadah malam dilanjutkan dengan salat tasbih dan salat tahajud.
Dalam keheningan dini hari suara imam memimpin salat terdengar jelas di ruang masjid.
Setelah salat malam selesai, jemaah mengikuti sesi muhasabah diri yang dipandu oleh Ustaz Syamsul Rijal.
Dalam sesi tersebut jemaah diajak merenungkan perjalanan hidup manusia sejak kelahiran hingga suatu saat kembali kepada Sang Pencipta.
Sebagian jemaah menundukkan kepala dan sebagian lainnya memejamkan mata saat mengikuti perenungan tersebut.
Menjelang waktu sahur suasana masjid kembali ramai.
Panitia mulai membagikan hidangan sahur kepada para peserta iktikaf.
Sejumlah jemaah berkumpul di sekitar meja pembagian makanan.
Beberapa ibu-ibu terlihat cukup bersemangat mendekati meja makanan hingga saling merapat dan sedikit berdesakan karena khawatir tidak kebagian.
Padahal panitia telah menyiapkan makanan sesuai jumlah peserta bahkan lebih.
Para jemaah kemudian menikmati hidangan sahur sambil berbincang ringan setelah menjalani rangkaian ibadah malam.
Tidak lama setelah sahur selesai azan Subuh berkumandang dari Masjid Baiturrahman.
Para jemaah kembali merapikan saf untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah.
Di luar masjid langit kawasan Senayan mulai berubah warna seiring munculnya cahaya fajar di balik gedung-gedung parlemen.
Bagi para jemaah malam iktikaf tersebut menjadi bagian dari ikhtiar mencari keberkahan Lailatul Qadar yang dalam Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan.
- Penulis :
- Shila Glorya







