Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Akademisi UIN Saizu Sebut Nilai Ramadan Relevan sebagai Landasan Moral Mendorong Perdamaian Dunia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Akademisi UIN Saizu Sebut Nilai Ramadan Relevan sebagai Landasan Moral Mendorong Perdamaian Dunia
Foto: (Sumber : Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan. ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Pantau - Akademisi dari Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muridan, menyatakan nilai-nilai yang diajarkan selama bulan Ramadan tetap relevan sebagai landasan moral untuk mendorong terciptanya perdamaian dunia.

Muridan menjelaskan bahwa puasa Ramadan merupakan proses pendidikan moral yang melatih manusia menahan diri, mengendalikan amarah, serta merasakan penderitaan orang lain.

Pengalaman spiritual tersebut menurutnya dapat mendorong tumbuhnya empati serta kepedulian terhadap sesama.

Ia menilai nilai-nilai Ramadan tidak hanya berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi berkembang menjadi etika sosial yang memperkuat solidaritas dan harmoni dalam kehidupan bersama.

Muridan juga menyebut perayaan Idul Fitri yang ditandai dengan tradisi saling memaafkan dan mempererat silaturahmi menjadi simbol penting dalam memulihkan hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.

Tradisi saling memaafkan tersebut menunjukkan bahwa rekonsiliasi dapat terjadi ketika manusia bersedia merendahkan hati serta membuka kembali ruang kebersamaan.

Spiritualitas dan Kepedulian Sosial

Muridan menambahkan bahwa spiritualitas Islam memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat.

Hal tersebut tercermin melalui praktik zakat, sedekah, serta meningkatnya kepedulian sosial selama Ramadan.

Ia menilai kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur dari hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan bersama.

Dalam perspektif ilmu sosial, ia menjelaskan hubungan antara pengalaman spiritual dan tanggung jawab sosial dapat dipahami melalui konsep Sociological Imagination yang diperkenalkan oleh C. Wright Mills dalam buku The Sociological Imagination.

Konsep tersebut menjelaskan bahwa pengalaman pribadi seseorang tidak terpisah dari persoalan sosial yang lebih luas karena kehidupan individu selalu berkaitan dengan realitas masyarakat.

Idul Fitri sebagai Momentum Perdamaian

Menurut Muridan, pesan moral Ramadan menjadi semakin relevan di tengah kondisi global yang masih dipenuhi konflik, pertentangan, dan ketegangan.

Puasa mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan menahan diri dari kebencian dan permusuhan.

Ia juga menilai Idul Fitri dapat dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah manusia yang cenderung pada kebaikan, saling menghargai, serta menjaga harmoni.

Muridan menambahkan bahwa perdamaian dunia tidak selalu lahir dari keputusan politik besar, tetapi juga bisa dimulai dari perubahan sikap manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan tersebut dapat berupa kemampuan memaafkan, menahan ego, serta memandang orang lain sebagai sesama manusia.

Ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan hanya penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga awal komitmen baru untuk membawa nilai kesabaran, empati, dan kasih sayang dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Penulis :
Ahmad Yusuf