
Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Papua Tengah menelusuri dugaan keracunan makanan yang dialami tujuh penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalami diare, muntah, dan pusing pada Rabu (11/3).
Kronologi Dugaan Keracunan Program MBG
Koordinator Wilayah BGN Nabire Marsel Asyerem menyampaikan tujuh orang yang mengalami gejala gangguan kesehatan terdiri dari tiga guru dan empat siswa.
Para penerima manfaat tersebut berasal dari TK Gracia, SMP Negeri 7, dan SD Inpres Waharia.
Ketiga sekolah tersebut merupakan bagian dari penerima layanan MBG yang disuplai oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lani.
Marsel Asyerem mengatakan, "Ketujuh orang tersebut mengalami gejala yang sama yaitu diare, muntah dan pusing sehingga ada dugaan keracunan akibat bakteri".
Ia menjelaskan dapur SPPG Lani melayani 17 sekolah dengan total penerima manfaat mencapai 1.892 orang yang terdiri dari siswa dan guru.
Marsel Asyerem mengatakan, "Dari total 1.892 penerima manfaat tersebut, hanya tujuh orang yang dilaporkan mengalami gejala diare, muntah, dan pusing".
Laporan terkait kejadian tersebut baru diterima oleh BGN pada Jumat (13/3).
Setelah menerima laporan tersebut, BGN segera berkoordinasi dengan dokter untuk menangani para pasien.
Sampel Muntahan Dikirim ke Jayapura
Berdasarkan pemeriksaan awal dokter, ditemukan adanya bakteri yang diduga mengganggu sistem imun tubuh pasien.
Namun penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih belum dapat dipastikan.
Marsel Asyerem mengatakan, "Dokter belum bisa memastikan apakah gejala tersebut disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lain".
Untuk memastikan penyebabnya, sampel muntahan pasien harus diperiksa melalui uji laboratorium.
Pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan di Nabire sehingga sampel akan dikirim ke laboratorium di Jayapura.
Dari tujuh orang yang mengalami gejala tersebut, tiga orang diketahui mengonsumsi makanan MBG di rumah karena makanan dibawa pulang.
Empat orang lainnya mengonsumsi makanan tersebut langsung di sekolah.
Dalam aturan program MBG, makanan basah seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah dan tidak diperbolehkan dibawa pulang karena berpotensi menjadi basi.
Pasien Mendapat Perawatan Medis
BGN memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami gejala gangguan kesehatan mendapatkan penanganan medis.
Sebanyak lima pasien sebelumnya dirawat di Klinik Rihensa sebelum dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih optimal.
Marsel Asyerem mengatakan, "Setelah berkoordinasi dengan Kepala SPPG Lani dan mitra, lima pasien yang dirawat di Klinik Rihensa dipindahkan ke Klinik Alfa Benedik Jaya agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik".
BGN juga menanggung seluruh biaya perawatan lima pasien di Klinik Rihensa dengan total mencapai Rp9,84 juta.
Kasus tersebut telah dilaporkan kepada BGN pusat sebagai bahan evaluasi terhadap dapur SPPG terkait.
Selain itu, BGN menginstruksikan seluruh dapur SPPG di Nabire untuk memperketat standar operasional prosedur pengolahan makanan guna mencegah kejadian serupa.
- Penulis :
- Shila Glorya







