
Pantau - Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyebut Festival Tumbilotohe Mulolo 2026 sebagai simbol kolaborasi dan pelestarian budaya berbasis syariat Islam di Provinsi Gorontalo.
Gusnar Ismail mengatakan tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu merupakan kebiasaan masyarakat Gorontalo setiap malam ke-27 Ramadhan.
Ia menyebut tradisi tersebut tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari identitas budaya daerah.
"Festival Tumbilotohe bukan hanya sekadar tradisi berbentuk seremoni musiman, melainkan simbol pelestarian budaya Gorontalo berbasis syariat Islam," kata Gusnar.
Ia menjelaskan tradisi ini juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menunaikan zakat fitrah serta menerangi jalan menuju masjid untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih.
Gusnar mengungkapkan Tumbilotohe telah mengalami perubahan dari penggunaan lampu minyak tanah hingga getah damar pada masa lalu, menjadi lampu listrik di era modern.
Meski demikian, ia menegaskan esensi tradisi harus tetap terjaga.
Pada Festival Tumbilotohe Mulolo 2026, pemerintah menghadirkan 7.500 lampu botol yang ditata untuk menciptakan pemandangan khas.
Kegiatan ini juga diramaikan dengan pawai obor, lomba kesenian religi, serta kehadiran pelaku usaha jajanan tradisional Gorontalo.
Pelaksanaan festival melibatkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk Forkopimda, organisasi perangkat daerah, pelaku usaha, perbankan, tokoh masyarakat, dan pihak terkait lainnya.
"Kami berharap kita semua di Gorontalo mempertahankan budaya Tumbilotohe tanpa melupakan nilai religius yang terkandung di dalamnya," kata Gusnar.
Pemerintah Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk terus mendukung penyelenggaraan Festival Tumbilotohe agar lebih besar dan meriah di masa mendatang.
Festival ini juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyempurnakan ibadah di penghujung bulan Ramadhan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







