Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Sekitar 100 Jamaah di Tulungagung Gelar Shalat Idul Fitri Lebih Awal, Berlangsung Kondusif Tanpa Gesekan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Sekitar 100 Jamaah di Tulungagung Gelar Shalat Idul Fitri Lebih Awal, Berlangsung Kondusif Tanpa Gesekan
Foto: (Sumber : Jamaah mengikuti Shalat Idul Fitri di Masjid Nur Muhammad Al Muhdlor, Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (19/3/2026). Pelaksanaan shalat Id lebih awal oleh sekitar 100 jamaah tersebut merupakan tradisi yang telah berlangsung lama di lingkungan pondok, mengacu pada perhitungan internal yang berbeda dengan penetapan pemerintah. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko..)

Pantau - Sekitar 100 jamaah melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal di Masjid Nur Muhammad Al Muhdlor, Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur, pada pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB.

Pelaksanaan Lebaran Lebih Awal di Lingkungan Pesantren

Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan pondok pesantren yang memiliki tradisi penetapan hari raya lebih awal.

Shalat Id dilaksanakan sebagaimana umumnya dengan diikuti ratusan jamaah yang terpusat di lokasi tersebut.

"Jumlah jamaah sekitar 100 orang dan pelaksanaan berjalan lancar. Kami melakukan pengamanan terbuka dan tertutup untuk mengantisipasi potensi gangguan," ungkap aparat kepolisian.

Kegiatan ini menjadi satu-satunya pelaksanaan Shalat Id lebih awal di wilayah Sumbergempol.

Setelah pelaksanaan shalat, jamaah saling bersalaman sebagai bagian dari tradisi Idul Fitri.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama berupa hidangan berkat atau nasi ambeng.

Masyarakat Tetap Rukun Meski Berbeda Penetapan

Aktivitas masyarakat di sekitar lokasi tetap berjalan normal meski terdapat perbedaan waktu perayaan Idul Fitri.

Sebagian warga memilih mengikuti penetapan pemerintah dan tetap beraktivitas seperti biasa, termasuk melakukan ziarah kubur.

"Tidak ikut (Lebaran awal), kami ikut (ketetapan 1 Syawal) pemerintah saja. Ini yang ikut Shalat Id memang khusus jamaah gus e (ustadz-nya)," ujar seorang warga.

Perbedaan penentuan hari raya tersebut tidak menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.

Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari dinamika kehidupan beragama yang dijalani dengan saling menghormati antarwarga.

Penulis :
Ahmad Yusuf