Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Investasi Raksasa Eni Senilai 15 Miliar Dolar AS Dorong Proyek Gas Laut Dalam di Kalimantan Timur

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Investasi Raksasa Eni Senilai 15 Miliar Dolar AS Dorong Proyek Gas Laut Dalam di Kalimantan Timur
Foto: Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

Pantau - Perusahaan energi global asal Italia, Eni, resmi mengambil keputusan final investment decision (FID) untuk proyek pengembangan gas laut dalam di lepas pantai Kalimantan Timur dengan nilai investasi sekitar 15 miliar dolar AS.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa keputusan tersebut menjadi sinyal kuat kepercayaan investor global terhadap sektor hulu migas Indonesia.

"Keputusan investasi ini menunjukkan kepercayaan besar investor global terhadap sektor hulu migas Indonesia," ungkapnya.

Keputusan FID ini dinilai relatif cepat karena hanya memakan waktu sekitar 18 bulan setelah persetujuan plan of development (POD) pada 2024, sekaligus mencerminkan percepatan pengembangan proyek migas laut dalam di Indonesia.

Pengembangan Dua Hub Gas Laut Dalam

Pengembangan proyek ini mencakup dua wilayah utama yakni Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub) yang akan memanfaatkan teknologi produksi laut dalam serta infrastruktur yang sudah tersedia.

Pada South Hub, pengembangan dilakukan di kedalaman laut antara 1.000 hingga 1.800 meter dengan pengeboran tujuh sumur produksi yang dihubungkan ke fasilitas Jangkrik Floating Production Unit (FPU).

Sementara itu, North Hub akan melibatkan pengeboran 16 sumur pada kedalaman hingga 2.000 meter yang terhubung ke fasilitas produksi terapung baru berupa Floating Production Storage and Offloading (FPSO).

FPSO tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari atau sekitar 1.000 MMSCFD serta mampu memproduksi sekitar 90.000 barel kondensat per hari.

Target Produksi dan Dampak Ekonomi

Total potensi sumber daya dari proyek ini diperkirakan mencapai 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat dengan target produksi dimulai pada 2028.

Produksi diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari yang akan dialirkan ke darat untuk memenuhi kebutuhan domestik serta mendukung produksi LNG di Bontang bagi pasar dalam negeri dan ekspor.

Pemanfaatan fasilitas seperti Jangkrik FPU dan reaktivasi Train F Kilang LNG Bontang ditujukan untuk menekan biaya sekaligus mempercepat proses komersialisasi gas.

Investasi ini juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi luas termasuk penyerapan ribuan tenaga kerja serta menjadi bagian dari kerja sama bisnis antara Eni dan Petronas Malaysia yang menargetkan pembentukan entitas baru dengan produksi gabungan lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.

Pemerintah bersama SKK Migas akan terus mendorong percepatan proyek strategis ini agar memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian nasional dan masyarakat.

Penulis :
Arian Mesa