
Pantau - Perdebatan penerapan lima atau enam hari sekolah kembali mencuat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, seiring diberlakukannya dua sistem berbeda di sekolah umum dan madrasah sejak awal 2026.
Kebijakan ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pembelajaran dan keseimbangan kehidupan siswa.
Dua Sistem Berjalan Bersamaan
Sekolah umum di Mataram mulai menerapkan sistem lima hari sekolah dengan jam belajar lebih panjang sejak Januari 2026.
Pemerintah Kota Mataram bahkan menyiapkan regulasi untuk menjadikan kebijakan tersebut permanen pada tahun ajaran 2026/2027.
Di sisi lain, madrasah di bawah Kementerian Agama kembali menerapkan sistem enam hari sekolah sejak pertengahan Februari 2026.
Perbedaan kebijakan ini mencerminkan adanya pendekatan berbeda dalam mengelola waktu belajar siswa.
Dampak pada Siswa dan Sistem Pendidikan
Sistem lima hari sekolah dinilai memberikan waktu istirahat lebih panjang bagi siswa, namun menuntut kesiapan fisik dan mental karena durasi belajar yang lebih padat.
Sementara itu, sistem enam hari sekolah menawarkan ritme belajar yang lebih longgar, tetapi mengurangi waktu luang siswa.
Perdebatan ini tidak hanya menyangkut jumlah hari belajar, tetapi juga menyentuh aspek kualitas pembelajaran, peran keluarga, dan kesiapan infrastruktur pendidikan.
Kondisi di Mataram menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan perlu mempertimbangkan berbagai faktor agar dapat berjalan optimal.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







