Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Lebaran Topat di Mataram Jadi Tradisi Sakral yang Perkuat Identitas dan Kebersamaan Masyarakat Sasak

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Lebaran Topat di Mataram Jadi Tradisi Sakral yang Perkuat Identitas dan Kebersamaan Masyarakat Sasak
Foto: (Sumber : Topat Agung dalam Perayaan Lebaran Topat di Pantai Loang Baloq, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Nirkomala..)

Pantau - Tradisi Lebaran Topat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, kembali digelar pada Syawal hari kedelapan sebagai wujud pelestarian budaya dan penguatan nilai kebersamaan masyarakat Sasak.

Tradisi Turun-Temurun Sarat Makna

Perayaan Lebaran Topat ditandai dengan aktivitas masyarakat yang mempersiapkan ketupat menggunakan janur di berbagai pasar tradisional seperti Mandalika, Kebon Roek, dan Pagesangan.

Tradisi ini tidak sekadar kegiatan kuliner, melainkan bagian dari ritual panjang yang diwariskan lintas generasi di Pulau Lombok.

Lebaran Topat juga menjadi simbol tuntasnya puasa sunah enam hari di bulan Syawal yang dimaknai sebagai kesempurnaan ibadah oleh masyarakat setempat.

Dalam perayaan tersebut, masyarakat mendatangi lokasi sakral seperti Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro sambil membawa hidangan khas untuk didoakan bersama.

Ritual Kolektif Pererat Kebersamaan

Berbagai ritual seperti zikir, doa, hingga tradisi makan bersama atau begibung menjadi bagian penting dalam perayaan ini.

Selain itu, terdapat pula tradisi ngurisan atau potong rambut bayi yang melambangkan harapan baru bagi kehidupan.

Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang menegaskan pentingnya menjaga tradisi tersebut sebagai warisan budaya.

"Lebaran Topat menjadi salah satu tradisi yang harus dipertahankan karena sarat dengan nilai religi dan mempererat tali silaturahmi," ujarnya.

Tradisi ini juga mencerminkan perpaduan antara nilai agama dan adat yang membentuk karakter Islam lokal yang inklusif dan membumi di tengah modernitas.

Sebagai informasi tambahan, Lebaran Topat tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga daya tarik wisata yang mampu menarik masyarakat untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan di ruang-ruang publik.

Penulis :
Aditya Yohan