
Pantau - Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menghemat energi termasuk penggunaan LPG di tengah ancaman krisis energi global dengan menekankan peran penting rumah tangga dalam menjaga ketahanan energi.
Technical Chef Igun Gunawan menyatakan, "Banyak orang berpikir krisis energi itu urusan pemerintah atau industri besar. Padahal, dapur rumah tangga juga punya kontribusi besar. Cara kita memasak setiap hari itu menentukan,".
Ia menilai kebiasaan sederhana seperti menyalakan kompor sebelum bahan siap dapat menyebabkan pemborosan gas.
Ia menyatakan, "Tanpa sadar, kita sering buang gas hanya karena tidak siap. Kompor sudah menyala, tapi masih sibuk potong bahan. Ini terlihat sepele, tapi kalau terjadi setiap hari, dampaknya besar,".
Efisiensi juga dapat dilakukan melalui teknik memasak seperti merendam bahan agar lebih cepat matang dan mengurangi waktu pemanasan.
Igun menyatakan, "Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,".
Kondisi kompor juga memengaruhi efisiensi penggunaan gas, di mana api ideal berwarna biru sebagai tanda pembakaran optimal.
Ia menyatakan, "Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,".
Penggunaan api besar tidak selalu lebih cepat, karena api sedang dinilai lebih efisien dan menghasilkan panas yang merata.
Ia menyatakan, "Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,".
Efisiensi energi di rumah tangga dinilai dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara bersama-sama.
Igun menyatakan, "Kita mungkin tidak bisa mengendalikan konflik dunia, tapi kita bisa mengendalikan cara kita menggunakan energi di rumah. Dari situ kontribusi besar bisa dimulai,".
- Penulis :
- Gerry Eka








