
Pantau - Direktur Utama RS Budi Setia Langowan, Minahasa, Dr James Komaling menilai kebijakan PP Tunas menjadi langkah darurat untuk menjawab persoalan kesehatan anak akibat penggunaan gawai yang tidak terkontrol.
Dampak Kesehatan Akibat Paparan Digital
James menyebut peningkatan penggunaan gawai pada anak memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah mata hingga kejiwaan.
Ia mengungkapkan, "Saya sudah temui anak usia 7 tahun dengan minus 4 dioptri."
Selain itu, gangguan mental seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga keinginan menyakiti diri sendiri juga meningkat akibat tekanan dari media sosial.
Ia menambahkan, "Banyak remaja datang ke saya dengan keluhan tidak pernah merasa cukup baik."
Pada balita, penggunaan gawai berlebihan juga memicu keterlambatan bicara hingga gejala mirip autisme.
Ia menegaskan, "Ini darurat kesehatan publik. PP Tunas adalah jawaban yang tepat."
Dorongan Regulasi dan Kolaborasi
James mendorong pemerintah segera menyusun aturan turunan yang mudah dipahami dan dapat diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia mengatakan, "Saya minta adanya aturan turunan PP Tunas yang bahasa dan prosedurnya mudah dipahami lintas pendidikan."
Ia juga menekankan perlunya pengawasan orang tua melalui sistem kontrol yang jelas serta sanksi edukatif bagi pelanggaran.
Ia mengungkapkan, "Sanksi tegas namun membina, peringatan disertai konseling wajib, kelas literasi digital parenting, dan sanksi administratif ringan jika berulang."
Selain itu, ia mengajak berbagai pihak seperti tenaga medis, lembaga pendidikan, hingga platform digital untuk berkolaborasi dalam mendukung implementasi kebijakan tersebut.
Ia menambahkan, "Edukasi tidak bisa sendiri. Keluarga adalah benteng terakhir."
Sebagai tambahan, ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar PP Tunas tidak hanya menjadi regulasi di atas kertas, tetapi benar-benar berdampak pada perlindungan anak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf









