
Pantau - Anggota Komisi III DPR RI Siti Aisyah menyoroti kondisi darurat narkoba di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dinilai belum ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum, saat kunjungan kerja di Kendari, Kamis (16/4/2026).
Soroti Jalur Laut dan Minimnya Penanganan
Siti Aisyah mengungkapkan jalur laut menjadi salah satu pintu masuk utama peredaran narkotika di wilayah Sultra yang perlu mendapat perhatian serius.
“Hari ini kita menyatakan darurat narkoba, tetapi perlakuannya tidak mencerminkan kondisi darurat itu sendiri,” ujarnya.
Ia menilai penanganan narkoba tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi antarpenegak hukum serta dukungan anggaran yang memadai, khususnya bagi Badan Narkotika Nasional (BNN).
Dugaan Keterlibatan Aparat dan Kritik Penindakan
Siti Aisyah juga menyoroti besarnya perputaran uang dalam bisnis narkotika yang membuka peluang keterlibatan berbagai pihak, termasuk oknum aparat.
“Dengan uang yang begitu besar, tidak mungkin narkoba ini berjalan sendiri. Bahkan, dugaan keterlibatan aparat juga sudah menjadi pembicaraan publik,” tegasnya.
Ia mencontohkan kondisi di Riau yang disebutnya telah memicu keresahan masyarakat hingga muncul aksi pembakaran akibat laporan yang tidak ditindaklanjuti.
“Masyarakat sudah resah, tetapi pengaduan tidak ditindaklanjuti. Akhirnya muncul aksi-aksi seperti pembakaran. Ini menunjukkan ada masalah serius dalam penanganannya,” katanya.
Menurutnya, langkah penindakan yang hanya sebatas pencopotan oknum aparat belum menyentuh akar persoalan.
“Apakah cukup hanya mencopot Kapolsek atau anggota? Apakah tidak akan muncul pemain baru? Ini yang harus kita pikirkan bersama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komitmen dalam pemberantasan narkoba secara menyeluruh, termasuk melalui peningkatan anggaran dan sistem pengawasan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








