HOME  ⁄  Nasional

Dasasila Bandung Kembali Menguat sebagai Kompas Moral Dunia di Tengah Polarisasi Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Dasasila Bandung Kembali Menguat sebagai Kompas Moral Dunia di Tengah Polarisasi Global
Foto: (Sumber : Refleksi pengunjung melihat foto pelaksanaan Konferensi Asia Afrika pada Tahun 1955 di Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026). Museum Konferensi Asia Afrika yang diresmikan pada Tahun 1980 tersebut dikunjungi 400 - 500 pengunjung perharinya dan diprediksi terus meningkat saat momentum peringatan Ke-71 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 2026. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/agr..)

Pantau - Dasasila Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 kembali dipandang relevan sebagai kompas moral dalam menghadapi polarisasi global yang kian meningkat.

Warisan Diplomasi yang Kian Relevan

Prinsip-prinsip yang menekankan penghormatan kedaulatan, penolakan intervensi, serta kerja sama damai dinilai menjadi landasan penting di tengah ketegangan geopolitik dunia saat ini.

"dunia tidak membutuhkan blok kekuatan yang saling mengancam. Dunia lebih membutuhkan ruang di mana bangsa-bangsa duduk setara, berbicara jujur, dan membangun masa depan bersama tanpa rasa takut." ungkapnya.

Polarisasi global tidak hanya terjadi antarnegara besar, tetapi juga mengancam tatanan multilateral yang selama ini melindungi negara berkembang.

Isi dan Nilai Dasasila Bandung

Dasasila Bandung memuat sepuluh prinsip utama, antara lain menghormati hak asasi manusia, menjaga kedaulatan dan integritas teritorial, serta tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain.

Selain itu, prinsip tersebut juga menegaskan penyelesaian sengketa secara damai, menolak agresi, serta mendorong kerja sama internasional yang adil dan setara.

Nilai-nilai ini dinilai sebagai fondasi solidaritas negara-negara berkembang dalam menghadapi tekanan geopolitik, perang dagang, dan konflik global yang semakin kompleks.

Momentum peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 2026 juga mendorong kembali penguatan semangat Bandung sebagai pedoman diplomasi yang inklusif dan berkeadilan.

Penulis :
Aditya Yohan