HOME  ⁄  Nasional

Megawati Usulkan Konferensi Asia-Afrika Jilid II untuk Redam Gejolak Geopolitik Dunia

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Megawati Usulkan Konferensi Asia-Afrika Jilid II untuk Redam Gejolak Geopolitik Dunia
Foto: Presiden Ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat menghadiri peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Sabtu 18/4/2026 (sumber: PDIP)

Pantau - Megawati Soekarnoputri mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) Jilid II guna mengatasi guncangan geopolitik global yang tengah terjadi.

Usulan tersebut disampaikan Megawati dalam peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Jakarta.

Dorong Kebangkitan Semangat KAA 1955

Megawati menilai dunia saat ini membutuhkan pemikiran alternatif dalam mewujudkan perdamaian global di tengah meningkatnya ketegangan antarnegara.

Ia menyebut semangat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 masih relevan untuk menjawab tantangan kesetaraan antarbangsa di era modern.

"Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia," ungkapnya.

Megawati juga menegaskan bahwa ancaman neokolonialisme dan imperialisme masih ada meskipun tampil dalam bentuk berbeda.

Menurutnya, penyelenggaraan KAA Jilid II menjadi penting untuk menjaga kedaulatan negara-negara merdeka.

Seruan Reformasi PBB dan Tatanan Global

Selain mengusulkan KAA Jilid II, Megawati juga menyerukan reformasi total terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai memiliki struktur usang sejak era Perang Dunia II.

Ia menghidupkan kembali gagasan Presiden pertama RI Soekarno terkait penghapusan hak veto yang dinilai menciptakan ketimpangan global.

"Perlu ada perubahan Piagam PBB dengan memasukkan Pancasila sebagai landasan internasional," ujarnya.

Megawati juga mendorong perubahan struktur Dewan Keamanan PBB serta mengusulkan pemindahan markas besar PBB ke negara netral yang tidak terlibat dalam persaingan kekuatan besar.

Ia menilai langkah reformasi tersebut mendesak mengingat kondisi geopolitik dunia yang tengah bergejolak, dengan mencontohkan dinamika politik di Venezuela dan serangan terhadap Iran.

"Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno," katanya.

Penulis :
Arian Mesa