HOME  ⁄  Nasional

Penguatan Delapan Fungsi Keluarga Dinilai Efektif Cegah Kekerasan Seksual

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Penguatan Delapan Fungsi Keluarga Dinilai Efektif Cegah Kekerasan Seksual
Foto: (Sumber: Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Wihaji membuka acara Gempita Lentera Keluarga secara daring pada Rabu (15/4/2026). ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN.)

Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyatakan penguatan delapan fungsi keluarga dapat menjadi langkah efektif dalam mencegah kekerasan seksual, terutama di tengah meningkatnya tantangan akibat penggunaan teknologi yang tidak tepat.

Kepala BKKBN Wihaji mengatakan keluarga memiliki peran penting sebagai benteng ketahanan bagi anak dan orang tua dalam menghadapi berbagai ancaman sosial, termasuk kekerasan seksual.

Ia menjelaskan bahwa permasalahan keluarga saat ini salah satunya dipicu oleh penggunaan teknologi, seperti telepon genggam, yang tidak bijak.

"Contoh, pelecehan seksual verbal yang terjadi di salah satu perguruan tinggi, sumbernya pasti juga dari teknologi handphone. Ini salah satu contoh yang jika tidak kita perhatikan dan terjadi pembiaran serta dianggap normal, maka hal seperti ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Kita perlu kembali mengampanyekan delapan fungsi keluarga," ungkapnya.

Kemendukbangga sebagai kementerian yang bertanggung jawab terhadap pembangunan keluarga menilai pendekatan penguatan fungsi keluarga harus dilakukan secara menyeluruh melalui siklus hidup, tidak hanya secara rasional tetapi juga emosional.

Delapan fungsi keluarga tersebut meliputi fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Pemerintah juga mendorong percepatan pelayanan terkait penguatan delapan fungsi keluarga melalui program Gempita Lentera Keluarga.

Program ini berfokus pada komunikasi, informasi, dan edukasi keluarga dengan melibatkan pendekatan kesehatan, pengasuhan, serta relasi yang setara.

Edukasi dilakukan oleh penyuluh KB dan petugas lapangan, termasuk pelatihan kader sebagai agen perubahan serta pendampingan langsung kepada keluarga sasaran.

Penguatan lingkungan sosial juga menjadi bagian penting dalam implementasi program tersebut.

"Strategi pendekatan yang dilakukan dalam Gempita Lentera Keluarga antara lain pendekatan perubahan perilaku bertahap, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, penguatan delapan fungsi keluarga di masyarakat, partisipatif dan kontekstual budaya lokal, serta kolaborasi lintas sektor," ujarnya.

Kemendukbangga menegaskan bahwa penguatan fungsi keluarga akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menciptakan keluarga yang tangguh dan mampu melindungi anggotanya dari berbagai risiko sosial.

Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peran keluarga dalam membentuk perilaku serta mencegah kekerasan sejak dini.

Penulis :
Gerry Eka