HOME  ⁄  Nasional

BRIN Dorong Penyetaraan Diaspora agar Bisa Jadi Peneliti Utama di Dalam Negeri

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BRIN Dorong Penyetaraan Diaspora agar Bisa Jadi Peneliti Utama di Dalam Negeri
Foto: (Sumber : Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam kegiatan Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize bertajuk “BRIN Menjemput Talenta Riset: Dari Sekolah hingga Panggung Dunia” di Jakarta, Senin (20/4/2026). ANTARA/HO-BRIN..)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penyetaraan akademisi diaspora Indonesia di luar negeri agar dapat mencapai jenjang peneliti utama di dalam negeri guna memperkuat kapasitas riset nasional, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Strategi Tarik Talenta Diaspora

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pihaknya tengah menyiapkan mekanisme penyetaraan bagi diaspora agar dapat berkontribusi lebih besar jika kembali ke Indonesia.

"Sekarang yang sedang kita pikirkan adalah bagaimana penyetaraan bagi diaspora Indonesia yang ada di luar untuk sampai pada tahap peneliti utama. Kalau ini bisa kita lakukan, akan banyak diaspora yang kembali ke Indonesia dan memperkuat riset kita," ujarnya.

Ia menegaskan diaspora tetap berperan penting sebagai penghubung kolaborasi global, namun BRIN juga ingin mendorong fenomena brain gain untuk menghadirkan talenta unggul ke dalam negeri.

"Ini akan bisa membantu mempercepat proses brain gain, kita akan mendapatkan talenta-talenta yang dahsyat dari berbagai negara untuk memperdayakan potensi-potensi mereka," kata Arif.

Peran Pendanaan dan Ekosistem Riset

Arif menambahkan penguatan ekosistem riset membutuhkan sinergi antara BRIN, perguruan tinggi, dan lembaga internasional agar berjalan seirama.

Sementara itu Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menekankan pentingnya dukungan pendanaan berkelanjutan dalam pengembangan riset nasional.

"Dari SMA, S1, S2 maupun menuju ke riset yang menuju global, kita akan siapkan dananya, baik untuk apresiasi maupun untuk risetnya," ujarnya.

LPDP saat ini mengelola empat dana abadi, yakni pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan perguruan tinggi, yang menjadi pilar pendukung pengembangan talenta dan riset jangka panjang.

Penulis :
Aditya Yohan