HOME  ⁄  Nasional

Hari Kartini Jadi Momentum, Akademisi Dorong Peran Ibu Tangkal Hoaks di Era Digital

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Hari Kartini Jadi Momentum, Akademisi Dorong Peran Ibu Tangkal Hoaks di Era Digital
Foto: (Sumber : Akademisi Universitas Nusa Cendana dan Korwil Mafindo Kota Kupang Maria Pabha Swan ANTARA/Yoseph Boli Bataona.)

Pantau - Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur, Maria Pabha Swan menilai Hari Kartini menjadi momentum penting untuk mendorong peran ibu dalam menangkal disinformasi di era digital.

Peran Ibu Jadi Garda Terdepan Literasi Digital

Maria yang juga Koordinator Wilayah Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Kota Kupang mengatakan perempuan, khususnya ibu, memiliki peran strategis sebagai penyaring informasi dalam keluarga.

Ia mengungkapkan, "Dalam semangat Kartini di era digital ini, peran perempuan, khususnya ibu-ibu, bisa diibaratkan sebagai penjaga gawang yang mampu menyaring informasi, baik disinformasi maupun misinformasi agar keluarga tidak termakan hoaks."

Menurutnya, ibu merupakan edukator pertama bagi anak sebelum memasuki pendidikan formal sehingga perlu dibekali literasi digital yang baik.

Ia menambahkan, "Jika seorang ibu memiliki literasi yang baik dan mampu menyaring informasi, maka keluarganya akan lebih terlindungi dari paparan hoaks dan disinformasi."

Waspadai Over Sharing dan Ancaman Siber

Maria juga menyoroti tingginya penggunaan media sosial oleh perempuan yang perlu diimbangi dengan etika bermedia, termasuk menghindari kebiasaan over sharing.

Ia menegaskan, "Tidak semua hal perlu dibagikan. Contohnya adalah anak. Anak bukan bukan objek konten dan harus dilindungi."

Ia mengingatkan bahwa membagikan informasi pribadi secara berlebihan dapat membuka peluang kejahatan siber.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” dengan memastikan kebenaran informasi sebelum dibagikan.

Ia mengatakan, "Bagikan hal yang penting, bukan sekadar ingin posting. Jika ragu, sebaiknya tidak diteruskan."

Maria berharap semangat Kartini masa kini tidak hanya soal emansipasi, tetapi juga literasi digital yang mampu melindungi keluarga dari hoaks.

Ia menyampaikan, "Jika dulu dikenal dengan ‘habis gelap terbitlah terang’, maka Kartini masa kini diharapkan membawa semangat ‘habis hoaks terbitlah cek fakta’."

Penulis :
Aditya Yohan